seo.uk.net new model TEMAN LEMBUR: Cerita Dewasa: Bertemu dengan Cowok Maniak Seks
  • New Model
  • Live score
  • Promo Sportbook
  • Promo Casino
  • Hubungi kami
  • Affiliasi
  • Nawala Unblocker
  • Nawala Unblocker 2
Selamat datang di TEMAN LEMBUR moto kami:anda puas kami senang

Monday, April 8, 2013

Cerita Dewasa: Bertemu dengan Cowok Maniak Seks



Ini adalah cerita pengalamanku ketika aku baru saja menjadi mahasiswi, aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta, disana aku berkenalan dengan Dina. Mahasiswi seangkatanku juga, orangnya biasa-biasa saja. Dengan tinggi 165 /50, rambut hitam sebahu, kulit putih, ceria, dan rada sedikit tomboy dalam penampilannya, karena Wenny berasal dari daerah, maka dia kost tidak jauh dari kampus.
Beberapa kali Dina mengajakku untuk main ketempat kostnya, tetapi aku menolaknya dengan halus karena memang aku tidak sempat. Hingga siang hari itu seusai kuliah. Wenny kembali mengajakku untuk bermain ketempat kostnya, dan entah kenapa. Hari itu aku mengiyakan ajakan Dina itu, mungkin karena akupun sedang bete di rumah dan kebetulan juga aku tidak membawa mobil. Sehingga rada malas juga pakai taxi, kamipun berjalan dari kampus ke tempat kost Dina.



Tidak jauh sih. Tapi harus melewati gang- gang sempit.
Akhirnya kami tiba ditempat kost Dina, menurutku tempatnya tidak terlalu bagus karena hanya merupakan bangunan semi permanen. Terdiri dari beberapa kamar kost. Dan kamar Dina terletak dilantai dua bersama 3 kamar lainnya, tidak terlalu besar kamar Dina itu. Dan di dalam kamar hanya ada sebuah ranjang yang cukup untuk 2 orang. Sebuah lemari pakaian, meja belajar, TV 14 inch, dan ada dvd serta stereo kaset, dan sebuah kipas angin yang ketika dinyalakan. Cukup berisik suaranya.
Setiba di dalam kamar Dina, akupun langsung duduk di tepian ranjang.
"Sorry Mbak. Kamarku berantakan" seru Dina sembari membuka lemari pakaiannya.
"Ah. Lumayan juga Din. Cuman rada panas yaa" jawabku.
"Memang. Panas banget." sahut Dina.
"Sorry.. Aku ganti baju dulu yaa" sambungnya lagi.
Lalu Dina membelakangiku. Melepas t-shirtnya. Lalu celana jeansnya. Tampak bra dan CD Dina yang berwarna hitam itu. Lalu Dina melepas branya. Sehingga aku dapat melihat punggung Dina yang mulus itu. Lalu ia mengenakan dasternya. Warna merah dengan motif bunga, tanpa lengan tapi cukup pendek menurutku. Karena ketika Dina membungkuk untuk mengambil bra-nya yang terjatuh dilantai. Tampak celana dalam Dina dari belakang, kemudian Dina menarik kursi dan duduk dihadapanku. Dengan kedua kaki diangkat ketepian kursinya dan dalam posisi mengangkang, sehingga kelihatan jelas celana dalamnya itu, aku hanya tersenyum saja melihat itu.



"Sorry yaa.. Aku duduk begini" seru Dina.
"Kita kan sama-sama cewek." sambungnya lagi.
"Enggak apa-apa kok Din" sahutku, lalu mataku tertuju ke sebuah bingkai foto yang terletak diatas meja belajar Dina.
"Foto siapa tuh Din?" seruku, lalu Dinna mengambil bingkai foto itu dan menyerahkan padaku.
"Cowokku" sahutnya.
Aku memperhatikan foto cowok Dina itu, tidak terlalu ganteng. Bahkan rada berumur, lalu.
"Namanya siapa Din?" tanyaku.
"Mas Eko"
"Berapa umurnya?"
"30 tahun.." sahut Dina.
"Kerja?"
"Iya. Pegawai negeri"
"Sudah lama kamu jalan sama dia?"
"Baru satu tahun"
"Tinggal dimana.?"
"Enggak jauh kok"
"Sering dong dia main ke sini?"
"Mhmm. Seringlah" sahut Dina.
Akupun tersenyum sembari mengembalikan foto itu pada Dina, tiba-tiba.. tok.. tok.. tok.. ada yang mengetuk pintu kamar.
"Wah umur panjang nih orang.." seru Dina.
Lalu ia bangkit berdiri dan membukakan pintu, tampak seorang pria berdiri di ambang pintu. Ternyata dia adalah cowok Dina itu.
"Hai Mas.." sambut Dina manja sembari memeluk dan mengecup bibir Mas Eko
"Mas.. Kenalin temanku. Nia" seru Dina.
Akupun mengulurkan tanganku dan dijabat erat oleh Mas Eko, rada risih juga sih. Karena tampak tatapan mata Mas Eko yang tajam..
"Eko.." sahutnya.


Lalu kami pun mengobrol bertiga di dalam kamar itu, Eko dan Dina duduk di tepian ranjang sementara aku duduk dikursi, dan ternyata Mas Eko itu enak diajak ngobrol. Orangnya humoris, cukup wibawa hanya saja matanya selalu mencuri-curi pandang ke arahku, cuman yang membuat aku merasa risih. Melihat tingkah laku mereka. Karena tidak jarang Mas Eko dalam candanya memegang paha dan mencolek buah dada Dina, sementara Dina hanya mengeliat saja tanpa usaha mencegahnya, bahkan ketika Dina sedang membungkuk untuk mengambil handuk yang terjatuh dilantai. dengan seenaknya Mas Eko mengulurkan tangannya memegang selangkangan Dina dari belakang.
"Auuh.." jerit Dina.
Tetapi dia membiarkan tangan Mas Eko itu meraba selangkangannya dari belakang, lalu Dina membalikkan tubuhnya dan.
"Nakal yaa Mas. enggak enak tuh dilihat Mbak Nia.." seru Dina manja.
"Hehehe." Mas Eko hanya cengegesan saja.
"Oh iya. Mau pada minum apa nih?" seru Dina.
"Seperti biasalah" sahut Mas Eko.
"Mbak Nia.. Mau minum apa?" tawar Dina
"Mhmm.. Teh botol aja deh" sahutku.
Lalu Dina keluar kamar. Mungkin mau memesan minum, kini tinggal aku dan Mas Eko dalam kamar itu. Mas Eko memandangiku terus. Dan aku merasa risih dipandangin demikian.
"Sudah punya pacar belum?" tanyanya tiba- tiba.
"Belum Mas.." sahutku polos.
"Kok cantik-cantik gini belum punya pacar" serunya lagi.
"Belum kepikiran Mas" sahutku diplomasi.



Lalu Dina masuk kembali ke dalam kamar, dia membawa minumanku, dan dua botol bir yang ternyata untuk Mas Eko, gilaa. siang-siang panas gini minum bir. pikirku.
Lalu kami mengobrol lagi. Dan setelah kusadari 2 botol bir itu telah habis.. Bahkan Mas Eko memesan lagi. Hingga aku lihat sudah lima botol tergeletak dilantai, bukan itu aja. Aku pun melihat Dina ikut-ikutan juga minum bir itu. Kini Mas Eko tambah berani. Ia tidak sungkan-sungkan menepuk pahaku atau bahuku jika sedang ngobrol, sementara Dina cuek saja melihat itu.
Menjelang sore. suasana dalam kamar itu menjadi semakin gerah bagiku, selain udara yang memang panas. tingkah laku Mas Eko dan Dina semakin di luar kontrol saja. Mereka tidak sungkan-sungkan berciuman di hadapanku. Bahkan dalam candanya beberapa kali Mas Eko meremas-remas buah dada Dina sementara Dina membiarkan itu semua. Bahkan dia semakin bersikap menantang.
"Mentang-mentang ada Mbak Nia. Beraninya hanya begitu saja" seru Dina.



Merasa ditantang demikian. tiba-tiba Mas Eko menerkam tubuh Dina sehingga tubuh Dina berada dibawahnya. Lalu dengan ganas Mas Eko menciumi bibir dan leher Dina, Dina hanya cekikikan saja. Sementara aku. Aku merasa semakin gerah saja, apalagi ketika tangan Mas Eko dengan leluasanya meraba-raba paha Dina hingga kepangkal pahanya.
"Ooohh.. Mas.. Uuhh.." rintih Dina.
Akupun memalingkan wajahku. melihat ketempat lain. Risih.. Tapi aku penasaran.
"Aahh. Oohh" rintih Dina lagi.
Akupun segera melirik dan yaa. ampunn.. Tampak Mas Eko telah melorotkan daster Dina sehingga kelihatanlah kedua buah dada Dina itu yang langsung diciumi dengan ganas oleh Mas Eko.

Bersambung...

 

No comments:

Post a Comment