indokasino

Friday, November 17, 2017

Cerita Dewasa : Ngentot Dengan tante yang liar

Ngentot Bersama Tante Tantri Yang Sungguh Liar – Cerita Dewasa Nafsu Liar Tantri Saat Liburan ini bermula ketika siang itu suasana kantin yang terletak di belakang kampus terlihat ramai, para mahasiswa dan mahasiswi sedang bersantai, suara dering ponsel, mesin kasir dan suara lantunan musik semua bercampur jadi satu. Di salah satu meja, terlihat kumpulan tiga mahasiswi cantik sedang asyik menyantap jajanan mereka. Kemudian datang dua orang mahasiswa, menghampiri mereka 

 

“Haloo…coba lihat ini…” kata seorang mahasiswa itu kepada mereka. Salah satu dari mahasiswi itu mtidakmbil selebaran tersebut dan melihat isinya yang berupa iklan liburan ke sebuah pulau dtidakn pemandangan laut yang indah dan eksotis.


“Apaan nih?” tanya Nanda, wanita manis berambut pendek terikat ke belakang itu. “Ini adalah liburan kita, Nan” jawab Dodi.


Seorang mahasiswi lain yang bernama Tantri mtidakmbil selebaran itu dari tangan Nanda, kemudian melihatnya .


“Hmm..asyik juga yah, tapi ini cuma buat orang berduit, lihat aja biayanya, lumayan mahal..” Tantri berkomentar.


Dodi tersenyum, begitu juga dtidakn Dedi, karena mereka sudah punya rencana lain.


“‘Kita ke sana backpacker aja yuk, kalau lewat agen gini kan kurang asik, ga menikmati perjalanan.” terang Dodi . Ketiga wanita yang cantik itu melihat ke Dodi.


“Gimana caranya? sewa Kapal..?” tanya Tantri penasaran . “Bener banget….Tenang aja, Om nya si Dedi itu orang pelabuhan, dia kenal sama penyewa Kapal dtidakn harga yang murah..” kata Dodi. “Kapalnya sih gak mewah, tapi cukup lah, ada tiga kamar, buat kita-kita..” kata Dedi meyakinkan. “Yang penting nyaman aja sih…” sahut Tantri. “Terus biayanya jadi berapa seorang?” tanya Nanda yang mulai tertarik. “Gini aja, loe pada siapin 2 jutaan aja masing-masing, itu buat sewa kapal. Selebihnya terserah loe orang buat uang jajan…” kata Dedi lagi. “Haiii ..lagi pada ngapain nih?” kata seorang dosen muda, yang tiba tiba sudah berada dekat mereka. “Eh Bu Heni, ini kita lagi bikin rencana buat liburan semester” terang Fifi , seorang mahasiswi, yang paling cantik dan agak pendiam itu.Sekali lagi Dodi mengungkapkan rencana liburan mereka pada dosen muda yang cantik itu.


Setelah mendtidakr penjelasan itu, Bu Heni pun mtidaknguk “Kamu ikut, Vi?” tanyanya . “Pengen sih, tanya dulu sama mama..” jawab Fifi. “Hmm..aku boleh ikut gak?” tanya Bu Heni lagi. “Serius nih mau ikut?” seru Dodi.


Heni tersenyum, “Serius dong, emang acaranya tertutup buat dosen yah?” jawab Heni “Kita ga bermaksud nolak kok, kita justru seneng kalau Ibu ikut, tapi jangan ngasih kita kuliah di kapal aja ntar” jawab Dedi bercanda. “Kamu ini dasar..” kata Heni sambil menepuk kepala pria itu dtidakn selebaran. “Jangan panggil aku Ibu dong ini bukan jam kelas kesannya tua ntar, panggil Heni aja kan udah sering aku bilang !” Mereka pun tertawa-tawa. “Eh, Vi, sekalian aja ajak, si Fina, please yah !” kata Dedi yang kebetulan naksir adik Fifi yang bernama Fina itu . “Iya, nanti aku coba ajak dia, tapi mesti tanya dulu sama mama, boleh gak.” jawab Fifi. “Emank berapa lama sih perginya” tanya Heni lagi. “Kira-kira seminggu deh, paling lama sepuluh hari” jawab Dodi. “Yah uda, kita bicarakan besok lagi, pokoknya kasih kabar lagi ya, yang jadi ikut siapa saja..” kata Dedi. “ok deh, gini dulu aja, mau ajak yang lain juga masih boleh, tapi jangan terlalu banyak, soalnya kapalnya gak terlalu besar..” lanjut Dodi .

 

indokasino888.com


Mereka pun sepakat untuk bertemu lagi besok, guna memastikan jadi atau tidaknya. keesokan harinya mereka berkumpul lagi di kantin belakang kampus. Ternyata semuanya jadi ikut, tentunya beberapa dari mereka terpaksa berbohong pada orang tua mereka, dtidakn alasan kegiatan wajib dari kampus mereka. Yang paling senang saat itu adalah Dodi karena wanita pujaannya Fifi akhirnya ikut juga. Sudah setahun lebih Dodi melakukan pendekatan terhadap Fifi, memang susah karena Fifi seorang mahasiswi idaman dan bukan gadis gampangan.


Dodi belum menyatakan cintanya pada wanita itu, dia menunggu saat yang tepat agar hasilnya tak mengecewakan. Tetapi tanda-tanda ke arah sana sudah ada, selama ini Fifi memang sudah menunjukkan kode positif atas usaha Dodi. Dalam liburan kali inilah Dodi berencana mengungkapkan perasaannya.


Hal serupa juga dirasakan oleh Dedi, permintaannya agar Fifi mtidakjak adiknya, Fina terkabul. Dia mengenalnya ketika mtidakntarkan tugas kelompok ke rumah Fifi dan saat itu yang menerima adalah Fina. Waktu itu dia sempat berkenalan di pintu rumahnya tapi belum jauh karena Fina sudah keburu dipanggil ayahnya dari dalam rumah. Dedi mencatat, nama-nama temannya di secarik kertas. Dedi ,Dodi, Fifi, Fina, Nanda, Tantri dan Heni .


“Kalian mesti cepat setor uangnya dulu ya, gue mau bayar sewa kapal nih..” kata Dodi “Yah udah, gue transfer aja yah. Minta nomor rekening loe dong..” kata Tantri yang cantik dan centil itu.


Dedi pun segera menyebutkan nomor rekening banknya. “Oh iya, di kapalnya ada dapurnya, jadi bisa di pakai buat masak, nah loe orang juga mesti inget bawa bekal..”kata Dodi.


Mereka pun mengangguk. “Sebagian sudah gue atur, beras dan lauknya sudah gue siapin, paling gue harap tambahan dari loe orang” kata Dodi lagi. 

“Sip deh tenang aja..” kata Heni. “ok deh, kalo gitu kita tinggal tunggu waktu berangkatnya aja..” kata Dodi lagi dtidakn semangat.


Mereka pun menganguk. Waktu yang ditunggu pun tiba, mereka berkumpul di kampus. Setelah semua siap, dtidakn menyewa Grab Car, mereka berangkat menuju dermaga dimana kapal yang mereka sewa bersandar.


“Wah, kapalnya lumayan, bagus juga…” kata Tantri ketika melihat kapal yang mereka sewa “Haii, apa kabar? Aku Denis , yang akan mengemudikan Kapal ini ..” kata kapten Kapal itu memperkenal diri. Tantri pun menyalami kapten Kapal yang settidakh baya itu . “Haai kapten..” sapa Dedi. “Haai juga Dedi..” jawab Kapten itu yang sudah cukup akrab dengan Dedi sebelumnya. “Wah, teman-teman kamu, cantik yah..” kata kapten Denis, yang membuat Tantri tersipu malu. “Mari naik..” ajak kapten.


Mereka pun menaiki tangga kapal itu, dengan ditemani sang Kapten mereka berkeliling kapal dan menengok isi kapal itu. “Ini kamar, itu juga.. Total semua ada tiga kamar.. kalian pilih deh mana yang cocok..” kata Kapten Denis.


Mereka pun memilih, Fifi, adiknya dan Heni, di kamar tengah. Sedangkan Tantri dan Nanda di kamar belakang. Dodi dan Dedi menempati kamar depan. Setelah membereskan barang-barang bawaan masing-masing mereka kembali berkumpul bersama kapten kapal itu.


Kapten Kapal itu menunjukkan letak dapur, ruang kemudi dan ruangan lainnya.


“Nah ini buat yang mau mancing, rell troling” jelas sang kapten. “Wah asyik juga, boleh dicoba nih..” seru Dedi. “Satu lagi yang penting,” Kapten Denis menambahkan. “Jika terjadi apa-apa ambil kotak berisi penunjang kehidupan ini disini, kelak akan sangat membantu dalam keadaan darurat.” kata pria paruh baya itu seraya membuka sebuah tempat mirip brankas di salah satu koridor Kapal, di dalamnya ada sebuah kotak merah sebesar CPU berbahan plastik tebal. Benda itu diletakkan disana agar mudah diambil bila diperlukan pada saatnya. Para muda-mudi itu mangut-mangut mendengarkan penjelasan Kapten. “Lama perjalanan sampai ke pulau itu, kira-kira tiga sampai empat hari..” terang kapten Denis.


Mereka pun mengangguk.


“Baiklah jika tidak ada pertanyaan lagi, kita berangkat sekarang ya?” tanya kapten itu. “Berangkaaatt….” jawab mereka hampir bersamaan.


Perlahan Kapal itu bergerak meninggalkan dermaga menuju lautan luas. Dodi dan Dedi berada di dekat ruang kemudi bersama kapten Kapal, mereka asyik ngobrol masalah laut dan Sang Kapten juga membagikan banyak pengalaman yang dilaluinya selama 30 tahun lebih mengarungi lautan. Fifi, Fani dan Heni masih berdiam di kamarnya. Tantri dan Nanda berkeliling Kapal, di belakang Kapal mereka melihat tiga orang anak buah Kapal. ABK itu sedang membersihkan lantai dek Kapal itu. Ketiganya berkulit gelap, dan tampangnya agak seram.


“Mau mancing, Non..?” tanya salah seorang di antara mereka. “Engga bang, cuma lihat lihat aja ..” jawab Tantri. “Oh gitu.. gak apa-apa.. aku suka dilihatin kok, apa lagi sama perempuan cantik..”goda ABK yang berkumis dan kurus tinggi itu.


Nanda risih mendengarnya namun tak begitu bagi Tantri. Wanita cantik 20 tahun yang memang genit dan centil itu malah menanggapinya dengan senyum. Selain sebagai mahasiswi dia bekerja part time sebagai SPG sehingga memang terbiasa menebar pesona seperti itu, kehidupan seksnya juga lumayan liar, dia dikenal sebagai bispak yang pernah jual diri ke om-om dengan tarif tinggi.

Judi Online | Judi Bola | Judi Casino | Judi Bola Online | Casino Online | Poker | Poker Online | Domino Online | RedBull | Red Bull


“Bisa aja nih si abang..” balas Tantri.


Ketiga ABK itu tersenyum pada Tantri. Tiga pasang mata itu menatapnya dengan penuh nafsu pada kedua gadis itu terutama Tantri yang saat itu memakai kaos biru dipadu dengan hotpants dari bahan jeans yang pendek dan ketat. dtidakn demikian keindahan tubuhnya tercetak jelas, ltidakn dan paha jenjangnya yang mulus itu membuat ketiga pria ini menelan ludah. Nanda yang saat itu memakai kaos longgar dtidakn celana sedengkul juga menjadi tontonan mereka tapi kalah perhatian dari temannya yang pakaiannya lebih berani itu.


“eh Tantri balik yuk ..” ajak Nanda yang merasa tak nyaman dtidakn tatapan mereka. Tantri pun mengikuti ajakan temanya untuk balik ke kamarnya. Pandangan ketiga pria itu mengikuti sosok tubuh mereka yang menjauh terutama Tantri yang stidakja melgag-lenggokkan pinggul indahnya seperti berjalan di catwalk, terlebih ketika wanita itu menoleh sekilas dan mengedipkan mata pada mereka. “gila , cantik-cantik yah tuh perempuan, bikin nafsu ..” kata ABK yang paling tua berumur sekitar 50an bertubuh kekar itu. “Tul tuh apalagi yang rambutnya merah itu, nafsuin banget, kayanya dia suka ke gue tadi liat ga dia ngedip gitu huehehe|!” timpal temannya yang bergigi agak tonggos itu. “Ngaco dia ngedip gitu ke gue lagi, gue liat jelas kok !” kata yang kurus tinggi itu. Mereka kasak-kusuk sendiri padahal kedua wanita itu sudah menghilang dari pandangan mereka. “Heii|ngapain disitu ngerumpi !” sebuah bentakan dari belakang tiba- tiba membuat mereka terkejut dan menoleh ke arah suara. “Yat, dari tadi aku panggil suruh periksa ruang mesin kok ga jawab, malah ngerumpi, ayo sana !” perintahnya galak. “Iya|iya kapten, maaf-maaf !” pria tonggos bernama Aan itu pun langsung berlari kecil ke dalam.


“Kamu Aki, ikut aku ke ruang kemudi, masa ngepelnya belom selesai juga, kapal udah jalan tau..” perintahnya lagi pada yang kurus tinggi itu “kamu terusin sampai bersih ya..”


Denis memang berwibawa di mata anak buahnya, sekali perintah saja mereka langsung menjalankan perintahnya. Kadang memang dia harus bersikap keras begitu sebagai seorang pemimpin, tetapi di saat santai dia akan akrab seperti teman dengan mereka.


Malam hari, usai makan malam mereka saling bersenda gurau di dek kapal itu. Sembari menonton film mereka membicarakan keindahan tempat tujuan mereka. Namun berbeda dengan Tantri, di tengah film dia mulai merasa bosan karena subtitle filmnya agak ngaco karena film yang kami tonton itu memang bajakan, sehingga tak mudah di mengerti, maka dia memilih keluar dari ruangan itu, menuju keluar menikmati hembusan angin laut sambil menghisap sebatang rokok mentolnya. Tak jauh dari tempatnya tiga ABK tadi sedang beres-beres dan melihat ke arahnya, sekali lagi mereka menikmati keseksian tubuhnya. dengan hotpants jeansnya, paha mutih mulus Tantri terlihat jelas.


Satu ABK yang bernama Anto mencoba mendekat dan menegurnya. “Wah, sudah malam masih di luar aja, nanti masuk angin, Non,” katanya membuka pembicaraan. “Iiiih, bikin kaget saja, aku kira siapa” jawab Tantri. “Lagi ngapain, Non sendirian di sini..” tanya Anto lagi. “Lagi ngerorok, biasa bang abis makan, mau?” jawab Tantri sembari menawarkan rokoknya pada Anto. “Tidak ah, rokoknya mentol, nanti jadi impoten,” jawab Anto. “hihihi, emang sekarang gak impoten?” canda Tantri genit sembari tertawa kecil. “Ya tidak toh Non, mau dicoba juga boleh…” jawab Anto semakin berani.


Wajah Tantri agak memerah, sepertinya dia malu. Dua ABK lain juga melihat jelas, Anto berhasil mendekati Tantri. “Aaah… abang bisa aja, masa ajak aku nyoba sih ..” jawab Tantri sekenanya. “hehehe..maf deh non, maklum di laut, jarang ada perempuan secantik non..” Anto melepas rayuannya.


Tantri menjadi ragu, dia membuang sisa rokoknya ke laut, menghembuskan asap rokok dari mulutnya dan berkata “Sudah yah bang, aku masuk dulu, dingin disini..” antri pun berjalan cepat masuk ke dalam lagi, bergabung kembali dengan teman-temannya.


Beberapa jam kemudian mereka pun masuk ke kamar, dan bersiap untuk tidur. Begitu juga dengan Tantri, yang masuk ke kamar berdua dengan Nanda. Mata Tantri masih terbuka lebar, sedangkan Nanda sepertinya sudah asyik di buai mimpi indahnya. Entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas perlahan kancing celana hotpantnya di bukanya, dan perlahan resletingnya dibuka. Jarinya masuk ke balik celana dalam putihnya, dan meraba selangkangannya sendiri. Mulutnya menganga, matanya terpejam. Tantri bermasturbasi, ini memang sering dilakukannya saat ia sedang horny, kali ini di sebuah Kapal. Apa yang dikhayalkannya tak lain adalah bercinta dengan para ABK itu, ABK yang berumur jauh lebih tua darinya dan berwajah gahar, berkulit kasar. Sudah lebih dari dua bulan Tantri tak merasakan sentuhan pria sejak putus dari pacar terakhirnya sehingga kini libidonya menggebu-gebu merindukan belaian, ciuman dan persetubuhan dengan lawan jenis yang perkasa dan mampu membuatnya menggelepar-gelepar.

Tangannya terus bermain di selangkangannya sendiri, sampai tubuhnya mengejang. Dan perlahan tangannya keluar dari balik celana dalamnya. Jelas terlihat jari-jarinya yang basah akibat lendir gairahnya. Tantri membersihkan jari-jarinya dengan tissue seadanya. Setelah menaikan kembali resleting celananya kemudian dia tertidur pulas.


Keesokan harinya, Dedi dan Dodi, asyik memancing dengan troling di belakang Kapal itu, dibantu oleh dua orang ABK kapal. Fifi, Fina , dan Heni berada di deck tengah, Fifi dan Heni sedang asyik ngobrol sambil bersandar di pagar kapal, Heni bercerita tentang rencana pertunangannya yang tinggal tiga bulan lagi dan Fifi juga berbagi cerita tentang kehidupan cintanya yang sedang dibayangi Dodi dia meminta pendapat dari dosen itu, sementara di belakang mereka Fina sedang berbaring di sebuah bangku santai sembari mendengarkan lagu dari HP’nya, sebuah kacamata hitam menghiasi wajahnya.

Aan si tonggos lewat di depan mereka, matanya tak bisa lepas dari ketiganya, terutama Fina yang sedang berbaring dengan celana pendek dan tanktop kuning mini membuat perutnya yang rata itu terlihat. “Siang, Non” sapanya sembari cengengesan yang dibalas ramah oleh ketiganya.


Nanda membaca buku di dek terbuka, menikmati angin laut yang segar. Tantri memeperhatikan Dodi dan Dedi yang sedang memancing. Tapi jelas matanya menatap para ABK itu. Ada gairah tersendiri dalam diri Tantri kepada para ABK itu. Tantri melamun dan mengkhayal, bagaimana rasanya jika kemaluannya di masukan kemaluan mereka. Bersambung…

 

 

 


Wednesday, November 15, 2017

Cerita Dewasa : Ngentot dengan majikanku

ML Dengan Majikanku Yang Cantik. Lima bulan sudah aku bekerja sebagai seorang pembantu rumahtangga di keluarga Pak Umar. Aku memang bukan seorang yang makan ilmu bertumpuk, hanya lulusan SD saja di kampungku. Tetapi karena niatku untuk bekerja memang sudah tidak bisa ditahan lagi, akhirnya aku pergi ke kota jakarta, dan beruntung bisa memperoleh majikan yang baik dan bisa memperhatikan kesejahteraanku. Ibu umar pernah berkata kepadaku bahwa beliau menerimaku menjadi pembantu rumahtangga dirumahnya lantaran usiaku yang relatif masih muda. Beliau tak tega melihatku luntang-lantung di kota besar ini. “Jangan-jangan kamu nanti malah dijadikan wanita panggilan oleh para calo WTS yang tidak bertanggungjawab.” Itulah yang diucapkan beliau kepadaku.

Usiaku memang masih 18 tahun dan terkadang aku sadar bahwa aku memang lumayan cantik, berbeda dengan para gadis desa di kampungku. Pantas saja jika Ibu umar berkata begitu terhadapku.
Namun akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, yakni tentang perlakuan anak majikanku Mas Anto terhadapku. Mas Anto adalah anak bungsu keluarga Bapak umar. Dia masih kuliah di semester 4, sedangkan kedua kakaknya telah berkeluarga. Mas Anto baik dan sopan terhadapku, hingga aku jadi aga segan bila berada di dekatnya. Sepertinya ada sesuatu yang bergetar di hatiku. Jika aku ke pasar, Mas Anto tak segan untuk mengantarkanku. Bahkan ketika naik mobil aku tidak diperbolehkan duduk di jok belakang, harus di sampingnya. Ahh.. Aku selalu jadi merasa tak Enak. Pernah suatu malam sekitar pukul 20.00, Mas anto hendak membikin mie instan di dapur, aku bergegas mengambil alih dengan alasan bahwa yang dilakukannya pada dasarnya adalah tugas dan kewajibanku untuk bisa melayani majikanku. Tetapi yang terjadi Mas Anto justru berkata kepadaku, “Nggak usah, Sarni. Biar aku saja, ngga apa-apa kok..”
  
“Nggak.. nggak apa-apa kok, Mas”, jawabku tersipu sembari menyalakan kompor gas.

Tiba-tiba Mas Anto menyentuh pundakku. Dengan lirih dia berucap, “Kamu sudah capek seharian bekerja, Sarni. Tidurlah, besok kamu harus bangun khan..”
Aku hanya tertunduk tanpa bisa berbuat apa-apa. Mas Anto kemudian melanjutkan memasak. Namun aku tetap termangu di sudut dapur. Hingga kembali Mas Anto menegurku.
“Sarni, kenapa belum masuk ke kamarmu. Nanti kalau kamu kecapekan dan terus sakit, yang repot kan kita juga. Sudahlah, aku bisa masak sendiri kalau hanya sekedar bikin mie seperti ini.”
Belum juga habis ingatanku saat kami berdua sedang nonton televisi di ruang tengah, sedangkan Bapak dan Ibu Umar sedang tidak berada di rumah. Entah kenapa tiba-tiba Mas Anto memandangiku dengan lembut. Pandangannya membuatku jadi salah tingkah.
“Kamu cantik, Sarni.”
Aku cuma tersipu dan berucap,
“Teman-teman Mas Anto di kampus kan lebih cantik-cantik, apalagi mereka kan orang-orang kaya dan pandai.”
“Tapi kamu lain, Sarni. Pernah tidak kamu membayangkan jika suatu saat ada anak majikan mencintai pembantu rumahtangganya sendiri?”
“Ah.. Mas Anto ini ada-ada saja. Mana ada cerita seperti itu”, jawabku.
“Kalau kenyataannya ada, bagaimana?”
“Iya.. nggak tahu deh, Mas.”
Kata-katanya itu yang hingga saat ini membuatku selalu gelisah. Apa benar yang dikatakan oleh Mas Anto bahwa ia mencintaiku? Bukankah dia anak majikanku yang tentunya orang kaya dan terhormat, sedangkan aku cuma seorang pembantu rumahtangga? Ah, pertanyaan itu selalu terngiang di benakku.
Tibalah aku memasuki bulan ke tujuh masa kerjaku. Sore ini cuaca memang sedang hujan meski tak seberapa lebat. Mobil Mas Anto memasuki garasi. Kulihat pemuda ini berlari menuju teras rumah. Aku bergegas menghampirinya dengan membawa handuk untuk menyeka tubuhnya.
“Bapak belum pulang?” tanyanya padaku.
“Belum, Mas.”
“Ibu.. pergi..?”
“Ke rumah Bude Mami, begitu ibu bilang.”
Mas Anto yang sedang duduk di sofa ruang tengah kulihat masih tak berhenti menyeka kepalanya sembari membuka bajunya yang rada basah. Aku yang telah menyiapkan segelas kopi susu panas menghampirinya. Saat aku hampir meninggalkan ruang tengah, kudengar Mas anto memanggilku. Kembali aku menghampirinya.
“Kamu tiba-tiba membikinkan aku minuman hangat, padahal aku tidak menyuruhmu kan”, ucap Mas Anto sembari bangkit dari tempat duduknya.
“Santi, aku mau bilang bahwa aku menyukaimu.”
“Maksud Mas Apa bagaimana?”
“Apa aku perlu jelaskan?” sahut Mas Anto padaku.
Tanpa sadar aku kini berhadap-hadapan dengan Mas Anto dengan jarak yang sangat dekat, bahkan bisa dikatakan terlampau dekat. Mas Anto meraih kedua tanganku untuk digenggamnya, dengan sedikit tarikan yang dilakukannya maka tubuhku telah dalam posisi sedikit terangkat merapat di tubuhnya. Sudah pasti dan otomatis pula aku semakin dapat menikmati wajah ganteng yang rada basah akibat guyuran hujan tadi. Demikian pula Mas Anto yang semakin dapat pula menikmati wajah bulatku yang dihiasi bundarnya bola mataku dan mungilnya hidungku.

Kami berdua tak bisa berkata-kata lagi, hanya saling melempar pandang dengan dalam tanpa tahu rasa masing-masing dalam hati. Tiba-tiba entah karena dorongan rasa yang seperti apa dan bagaimana bibir Mas Anto menciumi setiap lekuk mukaku yang segera setelah sampai pada bagian bibirku, aku membalas pagutan ciumannya. Kurasakan tangan MasAnto merambah naik ke arah dadaku, pada bagian gumpalan dadaku tangannya meremas lembut yang membuatku tanpa sadar mendesah dan bahkan menjerit lembut. Sampai disini begitu campur aduk perasaanku, aku merasakan nikmat yang berlebih tapi pada bagian lain aku merasakan nikmat yang berlebih tapi pada bagian lain aku merasakan takut yang entah bagaimana aku harus melawannya. Namun campuran rasa yang demikian ini segera terhapus oleh rasa nikmat yang mulai bisa menikmatinya, aku terus melayani dan membalas setiap ciuman bibirnya yang di arahkan pada bibirku berikut setiap lekuk yang ada di bagian dadaku. Aku semakin tak kuat menahan rasa, aku menggelinjang kecil menahan desakan dan gelora yang semakin memanas.
Ia mulai melepas satu demi satu kancing baju yang kukenakan, sampailah aku telanjang dada hingga buah dada yang begitu ranum menonjol dan memperlihatkan diri pada Mas Anto. Semakin saja Mas Anto memainkan bibirnya pada ujung buah dadaku, dikulumnya, diciuminya, bahkan ia menggigitnya. Golak dan getaran yang tak pernah kurasa sebelumnya, aku kini melayang, terbang, aku ingin menikmati langkah berikutnya, aku merasakan sebuah kenikmatan tanpa batas untuk saat ini.

indokasino888.com

Aku telah mencoba untuk memerangi gejolak yang meletup bak gunung yang akan memuntahkan isi kawahnya. Namun suara hujan yang kian menderas, serta situasi rumah yang hanya tinggal kami berdua, serta bisik goda yang aku tak tahu darimana datangnya, kesemua itu membuat kami berdua semakin larut dalam permainan cinta ini. Pagutan dan rabaan Mas Anto ke seluruh tubuhku, membuatku pasrah dalam rintihan kenikmatan yang kurasakan. Tangan Mas Anto mulai mereteli pakaian yang dikenakan, iapun telanjang bulat kini. Aku tak tahan lagi, segera ia menarik dengan keras celana dalam yang kukenakan. Tangannya terus saja menggerayangi sekujur tubuhku. Kemudian pada saat tertentu tangannya membimbing tanganku untuk menuju tempat yang diharapkan, dibagian bawah tubuhnya. Mas Anto dan terdengar merintih.
Buah dadaku yang mungil dan padat tak pernah lepas dari remasan tangan Mas Anto. Sementara tubuhku yang telah telentang di bawah tubuh Mas Anto menggeliat-liat seperti cacing kepanasan. Hingga lenguhan di antara kami mulai terdengar sebagai tanda permainan ini telah usai. Keringat ada di sana-sini sementara pakaian kami terlihat berserakan dimana-mana. Ruang tengah ini menjadi begitu berantakan terlebih sofa tempat kami bermain cinta denga penuh gejolak.
Ketika senja mulai datang, usailah pertempuran nafsuku dengan nafsu Mas Anto. Kami duduk di sofa, tempat kami tadi melakukan sebuah permainan cinta, dengan rasa sesal yang masing-masing berkecamuk dalam hati. “Aku tidak akan mempermainkan kamu, Sarni. Aku lakukan ini karena aku mencintai kamu. Aku sungguh-sungguh, Sarni. Kamu mau mencintaiku kan..?” Aku terdiam tak mampu menjawab sepatah katapun.
Mas Anto menyeka butiran air bening di sudut mataku, lalu mencium pipiku. Seolah dia menyatakan bahwa hasrat hatinya padaku adalah kejujuran cintanya, dan akan mampu membuatku yakin akan ketulusannya. Meski aku tetap bertanya dalam sesalku, “Mungkinkah Mas Anto akan sanggup menikahiku yang hanya seorang pembantu rumahtangga?”
Sekitar pukul 19.30 malam, barulah rumah ini tak berbeda dengan waktu-waktu kemarin. Bapak dan Ibu umar seperti biasanya tengah menikmati tayangan acara televisi, dan Mas Anto mendekam di kamarnya. Yah, seolah tak ada peristiwa apa-apa yang pernah terjadi di ruang tengah itu.
Sejak permainan cinta yang penuh nafsu itu kulakukan dengan Mas Anto, waktu yang berjalanpun tak terasa telah memaksa kami untuk terus bisa mengulangi lagi nikmat dan indahnya permainan cinta tersebut. Dan yang pasti aku menjadi seorang yang harus bisa menuruti kemauan nafsu yang ada dalam diri. Tak peduli lagi siang atau malam, di sofa ataupun di dapur, asalkan keadaan rumah lagi sepi, kami selalu tenggelam hanyut dalam permainan cinta denga gejolak nafsu birahi. Selalu saja setiap kali aku membayangkan sebuah gaya dalam permainan cinta, tiba-tiba nafsuku bergejolak ingin segera saja rasanya melakukan gaya yang sedang melintas dalam benakku tersebut. Kadang aku pun melakukannya sendiri di kamar dengan membayangkan wajah Mas Anto. Bahkan ketika di rumah sedang ada Ibu umar namun tiba-tiba nafsuku bergejolak, aku masuk kamar mandi dan memberi isyarat pada Mas Anto untuk menyusulnya. Untung kamar mandi bagi pembantu di keluarga ini letaknya ada di belakang jauh dari jangkauan tuan rumah. Aku melakukannya di sana dengan penuh gejolak di bawah guyuran air mandi, dengan lumuran busa sabun di sana-sini yang rasanya membuatku semakin saja menikmati sebuah rasa tanpa batas tentang kenikmatan.
Walau setiap kali usai melakukan hal itu dengan Mas Anto, aku selalu dihantui oleh sebuah pertanyaan yang itu-itu lagi dan dengan mudah mengusik benakku: “Bagaimana jika aku hamil nanti? Bagaimana jika Mas Anto malu mengakuinya, apakah keluarga Bapak Umar mau merestui kami berdua untuk menikah sekaligus sudi menerimaku sebagai menantu? Ataukah aku bakal di usir dari rumah ini? Atau juga pasti aku disuruh untuk menggugurkan kandungan ini?” Ah.. pertanyaan ini benar-benar membuatku seolah gila dan ingin menjerit sekeras mungkin. Apalagi Mas Anto selama ini hanya berucap: “Aku mencintaimu, Sarni.” Seribu juta kalipun kata itu terlontar dari mulut Mas Anto, tidak akan berarti apa-apa jika Mas Anto tetap diam tak berterus terang dengan keluarganya atas apa yang telah terjadi dengan kami berdua.
Akhirnya terjadilah apa yang selama ini kutakutkan, bahwa aku mulai sering mual dan muntah, yah.. aku hamil! Mas Anto mulai gugup dan panik atas kejadian ini.
“Kenapa kamu bisa hamil sih?” Aku hanya diam tak menjawab.
“Bukankah aku sudah memberimu pil supaya kamu nggak hamil. Kalau begini kita yang repot juga..”
“Kenapa mesti repot Mas? Bukankah Mas Anto sudah berjanji akan menikahi Sarni?”
“Iya.. iya.. tapi tidak secepat ini Santi. Aku masih mencintaimu, dan aku pasti akan menikahimu, dan aku pasti akan menikahimu. Tetapi bukan sekarang. Aku butuh waktu yang tepat untuk bicara dengan Bapak dan Ibu bahwa aku mencintaimu..”
Yah.. setiap kali aku mengeluh soal perutku yang kian bertambah usianya dari hari ke hari dan berganti dengan minggu, Mas Anto selalu kebingungan sendiri dan tak pernah mendapatkan jalan keluar. Aku jadi semakin terpojok oleh kondisi dalam rahim yang tentunya kian membesar.
Genap pada usia tiga bulan kehamilanku, keteguhkan hatiku untuk melangkahkan kaki pergi dari rumah keluarga Bapak umar. Kutinggalkan semua kenangan duka maupun suka yang selama ini kuperoleh di rumah ini. Aku tidak akan menyalahkan Mas Anto. Ini semua salahku yang tak mampu menjaga kekuatan dinding imanku.



Subuh pagi ini aku meninggalkan rumah ini tanpa pamit, setelah kusiapkan sarapan dan sepucuk surat di meja makan yang isinya bahwa aku pergi karena merasa bersalah terhadap keluarga Bapak Umar.
Hampir setahun setelah kepergianku dari keluarga Bapak umar, Aku kini telah menikmati kehidupanku sendiri yang tak selayaknya aku jalani, namun aku bahagia. Hingga pada suatu pagi aku membaca surat pembaca di tabloid terkenal. Surat itu isinya bahwa seorang pemuda Anto mencari dan mengharapkan isterinya yang bernama Sarni untuk segera pulang. Pemuda itu tampak sekali berharap bisa bertemu lagi dengan si calon isterinya karena dia begitu mencintainya.
Aku tahu dan mengerti benar siapa calon isterinya. Namun aku sudah tidak ingin lagi dan pula aku tidak pantas untuk berada di rumah itu lagi, rumah tempat tinggal pemuda bernama Anto itu. Aku sudah tenggelam dalam kubangan ini. Andai saja Mas Anto suka pergi ke lokalisasi, tentu dia tidak perlu harus menulis surat pembaca itu. Mas Anto pasti akan menemukan calon istrinya yang sangat dicintainya. Agar Mas Anto pun mengerti bahwa hingga kini aku masih merindukan kehangatan cintanya. Cinta yang pertama dan terakhir bagiku.

Judi Online | Judi Bola | Judi Casino | Judi Bola Online | Casino Online | Poker | Poker Online | Domino Online | RedBull | Red Bull

Tuesday, November 14, 2017

Cerita Dewasa : Ngentot anak kampus

Namaku Fikri (22) aku adalah seorang mahasiswa disalah satu perguruan tinggi dijakarta, siang itu aku dan kawan-kaanku sedang nongkrong dekat kantin untuk menunggu jam kuliah selanjutnya. selama nongkrong aku dan temanku selalu bertukar fikiran atau hanya sekedar sharing tentang pembicaraan laki-laki. Seperti kebanyakan laki-laki normal lainnya, pembicaraannya tdk jauh dari bola, otomotif, wanita dan lain-lainnya.
 “sayank, ayo masuk..udah masuk nih..” sahut Bety (21) yg tdk lain tdk bukan adalah pacarku.Cerita sex terbaru, Bety terbilang gadis yg cantik, putih mulus, tinggi, sexy, dan tubuhnya pun proporsional.
iya nanti aku masuk, kamu duluan aja..” jawabku,“bener ya? Awas lho kalo sampe bolos lagi” sahut Bety,“iya yannnkkkkkk..” jawabku, lalu Bety pun pergi dan masuk kelas sedangkan aku masih asik saja kongkow bersama teman-temanku.Cerita mesum terbaru, Karena keasikan kongkow, aku pun jadi bablas untuk masuk kelas,“hhmmmm bagus ya bolos lagi..nongkrong aja terus!” sahut Bety sambil menjewer telingaku,“aaa..adedeh..sakit yank..” jawabku sambil dijewer,
“dibilangin jangan bolos jg, malah masih bolos..hhuuufftt..” sahutnya,“iya ampun yank, gak lagi-lagi aku bolos..” kataku,“gak ada ampun-ampunan, ikut aku pokoknya..” jawabnya sambil menjewer telingaku, aku pun menjadi tertawaan teman-temanku karena hal itu.Bety pun melepaskan jewerannya ditanganku,“pokoknya kamu harus ngerti pelajaran tadi..” sahut Bety,“ya tp gimana caranya sayank?” tanyaku,
“kita kerumah kamu sekarang, aku yg ajarin kamu..” jawabnya, lalu aku pun pulang kerumah bersama Bety karena ada pelajaran tambahan yg akan diberikannya.Seampainya dirumahku, aku ajak masuk Bety. Rumahku sedang sepi karena orang tua ku berada diluar kota karena urusan keluarga, jadilah aku dan Bety berdua saja.“kamu tunggu dulu aja disini, aku mau bikin minum sama nambil cemilan dulu” kataku,lalu Bety pun menurut saja.Aku pun kembali dgn membawa minuman dan cemilan,
“nah ayo kita mulai pelajarannya” sahut Bety, lalu ia pun mengajariku pelajaran tadi.Cukup lama Bety mengajariku pelajaran kuliah tadi sampai tak terasa jam sudah menunjukan jam 3 sore.“akhirnya selesai jg..” kataku sambil berbaring dilantai,“nah sekarang bebas dah, terserah kamu mau ngapain” sahut Bety sambil merapikan catatan dibindernya,“bener nih bebas ngapain aja?” tanyaku, Cerita Dewasa Terkini.“he’eemmhh..” jawabnya,“kalo gitu giliran aku ngajarin sesuatu ke kamu..hehehehe..” jawabku sambil berlari kekamarku mengambil sebuah tas, “ngajarin apa? Kamu mau kemana?” Tanya Bety. Lalu aku pun kembali dgn membawa tas punggung,“apa itu yank?” Tanya Bety,
“sekarang giliran aku ngajarin kamu sesuatu..hehehehe” jawabku, “iya tp apa?” jawab Bety penasaran,“udah sekarang kamu nurut aja..coba tangan kamu taruh kebelakang..” sahutku, lalu Bety pun mengikutinya. Setelah itu, aku ikat pergelangan tangan Bety menyiku kebelakang, “aawwwhhhh kok tangan aku diiket gini sih yank?” Tanya Bety, “gak apa-apa sayank, kamu nikmatin aja dulu..hehehe..” jawabku sambil mengikat bagian atas dan bawah payudaranya, “eeemmmmhhhhhh..aaahhhhhh..jangan kenceng-kenceng..” sahut Bety,
“iya ini jg gak kenceng kok..” jawabku, “yank, ini mainan apa sih? Kok aku diiket-iket gini?” Tanya Bety, “ini namanya bondage sayank, tp yg soft. Aku suka banget ngeliat foto cewek diiket kayak kamu gini sayank” jawabku sambil mengikat pergelangan kakinya, “oooh gitu..tp jangan apa-apain aku lho? Mentang-mentang aku diiket gini kamu bisa bebas apa-apain aku” sahutnya, “ya enggak lah sayank, aku tuh sayang banget sama kamu..kamu sayang jg kan sama aku?” Tanyaku sambil aku ikat bagian betis dan lututnya,
“iya aku jg sayang sama kamu” jawabnya sambil tersenyum, lalu aku cium bibirnya yg merah itu,
”uuummmhhhhh mmmuuaaahhhh..” Setelah aku ikat tubuh Bety, lalu aku pun memutar film. Bety pun mencoba melepaskan ikatan ditubuhnya dgn cara meronta, “yaannkkk, lepasin dulu doonkk..pegel nih..” sahut Bety sambil meronta dan bersandar didadaku, “kenapa sih sayank? Itu lihat filmnya..” jawabku, “tp pegel yaannkkk..ayolah bukain sebentar..” sahutnya, “ah kamu bawel banget sih yank..” lalu aku pun beranjak dan mengambil sapu tangan dan bandana,
buat apa itu yg? Lepasin aku dulu” sahutnya, “ssstttttt udah sekarang kamu diem dulu ya..hehehhe” jawabku, “yaannkkk jaaammmppphhhhhh mmmmppphhhh..” belum sempat Bety bicara, sebuah sapu tangan aku sumpalkan ke mulutnya dan aku tutup lagi dgn bandana agar sapu tangan dimulutnya tdk bisa dikeluarkan. “mmmmppphhhh mmmmppphhhh..” erang Bety sambil meronta, lalu aku rangkul tubuuh Bety agar tdk banyak bergerak. Bety pun mulai tenang dalam rangkulanku dan ia pun mulai menikmati filmnya. Perlahan tanganku pun mulai menelusup kedalam kemeja dan bra yg ia gunakan,
“mmmmpppphhhhh mmmmmmhhhhh..” desah Bety sambil terus menyaksikan film. Aku elus-elus payudaranya sambil aku pilin-piin putingnya. “mmmhhhhhh mmmmmpppphhhhh mmmmhhhhhhh..” desah Bety saat payudara dan putingnya aku pilin-pilin. Aku mulai isep-isep lehernya sambil aku pilin payudaranya, “mmmmppphhhhh mmmmhhhhhh mmmmhhhh..” desahnya, aku terus meremas payudaranya sambil aku pilin putingnya dan aku isep-isep lehernya yg mulus itu. “mmmmhhhhhhhhh mmmmmmmmhhhhh..” Bety terus memberikan respon yg cukup membuatku horny.
Lalu aku mulai telusupkan tanganku kedalam celananya, “mmmpphhh mmmppphhh..” tiba-tiba Bety menjauh dariku dan menunjukan mulutnya yg disumpal, “kenapa sayank?” tanyaku, “ffuuaahhh..jangan kesitu dulu, aku belum dapet feelnya..” jawabnya. “oooh oke deh..” lalu aku lanjut dgn mencium bibirnya,
“mmmppphhhh uuummmhhh..” aku lumat bibir Bety, “mmmppphhhh mmuuaaahhhh..” Bety pun membalas lumatanku. Lalu aku lumat lidahnya sambil aku elus-elus payudaranya, “uuuuummmmhhhh mmmppphhhh aaahhh..” desahnya. Aku terus elus-elus dan remas-remas payudranya, “eemmmhhhh mmmppphhhh..” desah Bety sambil memejamkan matanya, lalu aku pilin-pilin putting Bety sambil sedikit menekan,
“aaaaaaahhhhhhhhh!” jerit Bety, langsung saja aku bekap mulutnya, “ngapain sih jerit-jerit segala?” tanyaku sambil melepaskan bekapan tanganku, “maaf yank kelepasan..hehehe..” jawabnya, “waahh bahaya nih kalo kedengeran tetangga..” sahutku, lalu aku ambil sapu tangan dan aku sumpal mulut Bety agar tdk menjerit lagi. “mmmmppphhhhhh mmmpphhhhhh..” erangnya,

“nah kalo gini kan aman” jawabku sambil mengelus-elus payudaranya. Aku buka kancing kemejanya lalu aku keluarkan payudaranya dari cup bra-nya dan itu membuat payudara Bety mencuat dan semakin besar, aku elus-elus payudaranya sambil aku jilat-jilat putingnya. “mmmmmmpppppphhhhhhhhh!!” jerit Bety sekali lagi, aku pun terus isep-isep putingnya sambil aku pilin-pilin putting yg satu lagi. “mmmmppphhhh mmmmppphhhh mmmmppphhhh” desah Bety sambil memjamkan matanya, lalu aku buka celananya dan aku elus-elus memeknya. “mmmpphhh mmmpphhh mmpphhh..” desah Bety keenakan.
Aku isep-isep putting Bety sambil aku elus-elus payudaranya, lalu aku baringkan Bety di sofa dgn dan aku tutup matanya dgn bandana,lalu aku jilat-jilat memek Bety. “mmmmppphhh mmmpphhh mmmpphhhh..” desah Bety sambil menggelinjang. Lalu aku buka celanaku dan aku elus-elus memek Bety dgn k0ntolku dan pelan-pelan aku masukan k0ntolku ke memek Bety.
“mmmmmppphhhhh mmmppphhhhhh..” desah Bety, lalu aku mulai genjot-genjot memek Bety perlahan. “mmmppphhh mmpphhh..” desah Bety, aku isep-isep payudara dan leher Bety sambil terus genjot memeknya. aku lepas sumpalan di mulutnya lalu aku lumat bibirnya, “uuummmhhhh mmuuuaahhh aahhh sayaannkk aahhh..” desah Bety tdk beraturan saat aku genjot memeknya sambil melumat bibirnya.
“aaahhh sayannkkk uuuhhhh aahhh mmmhhhh..” desahnya, “kenapa sayank? Enak kan? Hehehe..” tanyaku, “aaahhhh mmmppphhhh aaahhhh aahhhh aaahhhh..” desah Bety keenakan, “aaawwwhhhh sayaaannkkk aaaahhhh saakkiiittt!!” jerit Bety saat aku menggenjotnya dgn kasar, “ssstttt diem donk sayaaank..” sahutku, “aaaahhhh mmmppphhhh yaaannnkkkk aaammmppphhh..” desah Bety saat aku sumpal lagi mulutnya karena takut didengar tetangga.
“mmmpphhh mmpphh mmppphhh..” terasa memek Bety pun semakin menjepit k0ntolku dan putingnya mengeras. Kelihatanya Bety sudah sangat horny, maka aku percepat genjotan di memeknya. “mmmpphhh mmmpphhh mmmpphhhh mmmppphhhh..” desah Bety sambil menggelengkan kepalanya saat aku genjot memeknya sambil aku pilin dan isep-isep putingnya, “mmmppphhhhhh mmmmpppphhhhh..” erangnya karena sudah tdk tahan lagi menahan orgasmenya,
“keluarin barengan ya sayang..” sahutku dan Bety pun terus mendesah dan menggelinjang, “mmmppphhhh mmmppphhh mmmpphhhh..” desahnya, “aaahhh sayaannkk aku mau keluar nih..” sahutku. Tak lama kemudian kami pun orgasme bersamaan,“mmmmmppphhhh mmmpphhhh..” desah Bety lemas. Aku lepas dulu sumpalan dimulutnya,
“kamu hebat sayank, makin cinta deh sama kamu..” kataku sambil mencium bibirnya, “uuummmhhh emmhhh aaammmhhhh..” Bety pun membalas ciumanku, ku lumat bibir dan lidahnya dan ia pun membalasnya. “kamu disini dulu ya, aku mau masak dulu buat kita..” sahutku, “lepasin aku yaankk, pegel nih..” jawabnya,“hehehe..nanti ya sayank, tp kalo kamu bisa lepasin aja sendiri..hehehe..” kataku sambil menyumpal lagi mulutnya, “tp yank eeuummppphhh mmmpphhhh..” belum sempat Bety bicara, aku sumpal lagi mulutnya dgn saputangan.
“aku masak dulu ya sayank..” kataku sambil mencium keningnya. Lalu Bety pun mulai meronta-ronta melepaskan ikatannya sementara itu aku didapur memasak untuk kami berdua.Selesai masak aku pun kembali dan melihat Bety masih keadaan terikat karena tdk bisa melepaskan diri dari ikatanku,
“lho belum lepas jg sayank? Hehehe” ledekku,“mmmppphhhhhh..” jawab Bety, lalu aku lepaskan ikatannya dan aku bersihkan tubuhnya dari sisa-sisa spermaku. Setelah kami berdua rapih, kami pun menyantap masakan yg aku buat. Setelah kejadian itu hubungan kami pun semakin menarikdan penuh warna. Setiap minggu kami selalu bermain dgn atau tanpa berhubungan badan (ML), dan aku berjanji gak akan pernah buat Bety kecewa.

indokasino888.com

 

Judi Online | Judi Bola | Judi Casino | Judi Bola Online | Casino Online | Poker | Poker Online | Domino Online | RedBull | Red Bull