indokasino

Wednesday, May 24, 2017

Cerita Dewasa : SPG Komputer Korban Nafsuku

Disini aku akan menceritakan kisah pribadiku yang mana terjadi setahun yang lalu, saat itu kantorku sedang mengikuti pameran computer di sebuah mall, karena tanggung jawabku sebagai direktur umum jadi aku langsung terjun untuk memantau kondisi disana, sebenarnya aku juga bisa menyuruh untuk bagian IT manager untuk memantaunya.


Tapi memang dunia komputer telah menarik perhatianku sejak dulu, sehingga aku sempatkan waktu liburku untuk melihat sendiri pameran ini.. Beberapa stand telah aku masuki dan lihat, untuk mengetahui produk yang mereka jajakan dalm pameran ini, terakhir aku mampir ke stand ACER untuk melihat jajaran notebook baru yang mereka tampilkan.
Aku sedang memperhatikan spesifikasi sebuah notebook, ketika bau harum parfum menerpaku.. Salah seorang SPG ACER menghampiri dan menyapaku. “Siang pak, ada yang bisa saya bantu nih..?” sapanya dengan suara yang renyah..
Aku segera menoleh dan mencoba untuk memperhatikannya lebih sekasama.. Wajahnya yang cantik dengan senyuman yang menawan dikembangkanlagi..
”Pak ini produk baru lho pak, diskonnya 20% hari ini terakhir pak,” ujarnya ramah sambil makin mendekatkan tubuhnya kearahku.. Wangi tubuhnya semakin terasa
“Iya nih, aku lagi lihat-lihat aja dulu ya..” ujarku sambil mencari kesempatan untuk memperhatikan sosoknya.. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, kutaksir sekitar 160 cm, tapi selain wajah cantiknya, ada dua hal lagi yang membuatku tertarik; yaitu kulitnya yang putih dan tonjolan didadanya yang sangat membusung, aku yakin ini pasti ukuran 34b minimal..
“Bapak ada kartu namanya?” tanyanya ramah.. “Oh, ada bentar aku ambil dulu ya..” ujarku seraya mengeluarkan dompetku dan mengambil kartu namaku..
Dia mengamati nama dan jabatanku, kemudian dengan senyum makin mengembang dia dia menambahkan..
”Wah bapak perlu buat pribadi atau perusahaan nih..” tanyanya ramah..
“Ya jelas untuk perusahaan lah kalau komputer non, kalau pribadi ya ama kamu aja..” candaku.. “Iiihh… bapak genit ah..” katanya sambil menahan senyum dan “Ini kartu namaku pak, nomor hapeku ada dibelakang ya..” sambungnya.
Kuperhatikan kartu namanya..hemm..”Anggi nama yang indah, seindah orangnya nii..” ujarku, dan Anggi tersenyum manis
“Bapak jago nih kalau ngerayu,” katanya.. “Okay Anggi, nanti kalau jadi aku hubungi kamu ya..” kataku seraya menjabat tangannya yang empuk banget dan nampak buah dadanya yang terguncang saat itu..
“Bener lho pak, jangan lupa ya ama Anggi,” ujarnya.. “Pak kalau Anggi telpon bapak kapan-kapan ga papa kan pak?” tambahnya..
“Tentulah non, untuk orang secantik kamu, kapan aja pasti aku terima..”candaku lagi..
“Makasih pak..” Hari Senin pagi jam 7.30 aku sudah sampai dikantorku setelah mengantar anakku masuk sekolah di daerah Kebayoran..
Kantorku di kawasan Sudirman masih sepi karena memang kantor masuk jam 8.00, hanya office boy yang masih sibuk membersihkan ruangan Departemen Umum yang telah datang..
Aku sedang duduk membaca koran dan menikmati kopi ketika hapeku berdering nyaring.. “Haloo, benar saya bicara dengan pak Iwan?” suara bening dan empuk menyapaku..
“Iya benar, ini dari siapa ya?” tanyaku, sambil mengingat-ingat nomor ini..
“Ya, bapak gitu deh.. Masa nomor Anggi dilupain siiihh” seru manja suara diseberang..
“Oohh kamu Anggi, bukan aku lupa, tapi aku belum sempet masukin nomor kamu ni…” ujarku.. “Pak, bapak sibuk gak hari ini?
Kalau tidak, boleh dong Anggi mampir nanti siang.. Ada yang Anggi mau bicarakan ama bapak..” pintanya masih dengan suara manja..
“Ya udah, kamu datang aja pas jam makan siang. Nanti sambil kita makan siang bareng aja, kamu omongin keperluan kamu ya..” kataku.. “Baik pak, makasih lho boleh ngrepotin bapak..” balasnya..
“On-time ya, jangan telat ..”kataku.. Jarum jam menunjukkan pukul 11.55 ketika salah seorang stafku mengetuk pintu kamarku..
“Masuuukk..” kataku.. “Pak ada tamu mau menemui bapak, namanya Anggi..” kata stafku, “Oh ya, suruh masuk aja..” ujarku.. Tak lama kemudian sebuah wajah cantik menyembul dari sela pintu yang tak tertutup..
”Siang pak Iwan..” sapa Anggi.. “Masuk Anggi, kita duduk di sofa aja ya..” kataku seraya bangkit menuju sofa di depan meja kerjaku.. Anggi mengenakan setelan blouser dan celana panjang resmi, beda dengan seragam SPG ACER yang seksi kemarin dia kenakan..
Tetapi blouser itu tak mampu menyembunyikan tonjolan buah dadanya yang besar dan sangat seksi, walau dia nampak sedikit resmi dengan bajunya saat ini..
“Wah, kantor bapak enak bener ya..” ujarnya memperhatikan sekeliling ruanganku..
“ Aaahh..bisa aja kamu..” ujarku..”Ayo kamu temenin aku makan siang dideket sini yoo…” “Baik pak..” ujarnya.. Kuarahkan mobil kearah selatan dan setelah melewati daerah macet disekitar Tendean kumasukan mobil kehalaman sebuah hotel bintang tiga..
“Sapi lada hitam di restorannya enak Nggi..” ujarku lembut, mencoba menenangkan wajahnya yang bertanya-tanya.. “Oh..begitu pak,” jawabnya dengan suara yang agak serak.. Setelah kuserahkan mobil ke petugas parkirnya, kuajak Anggi masuk kerestoran melewati resepsionis.. Setelah memesan makanan, mulai kutanyai Anggi tentang keperluannya..
“Ya udah sambil menunggu makanan kita, kamu bisa cerita keperluan kamu..” “Begini pak, sebenarnya saya malu ngrepotin bapak, tapi saya bener-bener lagi butuh ni pak,” ujarnya pelan dengan suara agak memelas..
Aku diam saja,memberikan waktu kepadanya untuk meneruskan ucapannya.. “Kalo bapak bisa dan perlu, saya mau pak jadi sekretaris bapak. Saya lihat tadi bapak belum punya sekretaris..”
“Oo..begitu toh non..Kalo gitu kamu siapin CV kamu dong..”ujarku.. “Ini pak,”tukasnya cepat sembari membuka tas dan menyerahkan sebuah amplop besar..
“Okay, sekarang kita makan dulu, nanti kita lanjutin ya.. Mudah-mudahan aku bisa bantu kamu..” ujarku, sambil mulai memikirkan cara untuk menenangkan adikku yang dari tadi sudah keras melihat tonjolan buah dada di balik blouser Anggi..
Setelah makan, aku bilang ke Anggi mau ke Rest Room dulu; padahal aku segera menuju Receiptionist untuk membuka kamar dan mengambil kunci.. Segera aku kembali untuk membuatnya tak curiga karena menunggu terlalu lama..
“Nggi bentar lagi ada klien dari Surabaya mau ketemu aku, nanti kamu dampingi aku yaa.. Sekalian aku mau lihat kemampuan kamu dalam praktek langsung,” ujarku tegas.. “Siap pak,” jawabnya seraya menyelesaikan makan siangnya..
“Ayo kita keatas, sambil nunggu dia datang aku bisa wawancara kamu dulu..”kataku. Dia hanya diam sambil berjalan perlahan dibelakangku, seraya kupijit tombol lift.. Sampai di lantai 5, segera kucari kamar 536 dan kubuka pintunya..
“Ayo masuk aja Nggi, lebih enak kita ngobrol dan wawancara disini sambil nunggu klienku..”ujarku.. Kusetel AC ke angka 27 derajat, supaya nanti dia merasa kepanasan dengan blouser tebalnya, dan melepasnya..
“Coba sekarang kamu ceritakan tentang diri kamu yang detil, nanti baru aku wawancari kamu,” seraya kubaca CV nya..
Dia dengan hati-hati mulai menceritakan tentang dirinya, sembari sesekali kucuri pandang kearah tonjolan didadanya.. Ternyata dia hanya part-timer saja kerja sebagai SPG, sembari mencoba mencari kerja full time sebagai sekretaris, sesuai dengan pendidikannya.. Sudah lebih 5 bulan ini dia mencoba, tapi belum berhasil juga.
Padahal tabungannya sudah menipis dan dia sudah dikejar oleh ibu kosnya untuk membayar tunggakan kosnya 2 bulan, karena dia mendahulukan untuk membayar SPP dua adiknya.. Kedua kakaknya memang telah menikah, tapi kondisi keuangan mereka tak dapat diharapkan untuk membantu biaya sekolah adik-adiknya.
Oleh karena itu dia sangat membutuhkan pekerjaan tetap saat ini, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kelangsungan sekolah kedua adiknya.Setelah beberapa saat, Anggi merasa kepanasan dan butir keringat mulai terlihat di dahinya..
“Kamu kepanasan ya.. Sorry Nggi aku agak gak enak badan, jadi AC aku setel segini..” ujarku. “Kamu copot aja blouser kamu itu, biar lebih nyantai dan sejuk..”
“Iya pak,” ujarnya seraya melepas blousernya, dan nampaklah pemandangan indah yang kutunggu-tunggu dari tadi.. Bahan sejenis kaus yang agak ketat dan tipis, membuatku sedikit terperangah, tapi dengan cepat aku sembunyikan sambil pura-pura tak melihat tonjolan buah dada yang begitu besar dan indah membayang dibalik kaus ketatnya..
Kugeser posisi dudukku, karena adikku sudah sangat tegang dan dalam posisi yang sangat tak nyaman.. Kuambil notebook dari tasku, dan kusuruh Anggi menghidupkannya dan coba membuat surat penolakan untuk seorang penyedia barang..
“Wah komputer bapak canggih sekali, ini tombol on nya dimana ya pak?” tanyanya..
Aku berdiri dan pindah duduk di sebelahnya, ketika semerbak bau wangi parfum bercampur keringatnya menerpaku.. “Sini kamu lihat ya Nggi,” ajakku untuk mendekatiku dan melihatku membuka notebook Fujitsuku yang baru..
Anggi duduk merapat di sebelah kananku, ketika aku mulai membuka notebook dan memulai program Word.. Ketika dia semakin merapat, dengan gerakan sangat natural kugerakkan sikuku kebelakang hingga menekan tonjolan buah dadanya yang seksi.
Uuuhhh… empuk sekali buah dadanya.. Refleks dia menarik tubuhnya kebelakang untuk menghindari lenganku, dan dengan wajah tanpa dosa kusuruh dia mulai mengetik surat itu.. Meja didepan sofa tempat kami duduk memang sangat rendah, sehingga dia terpaksa sedikit agak membungkuk untuk mengetik surat itu..
Aku rapatkan dudukku kearahnya, sambil pura-pura melihat dia mengetik dari samping agak dibelakang kepalanya, padahal pandangan mataku jatuh kebelahan buah dadanya yang nampak sangat merangsang.. Gerakannya mengetik membuat buah dadanya berguncang, dan ini membuat penisku makin tegang..
Setelah beberapa saat, aku tidak kuat lagi untuk menahan tangganku untuk tidak menyentuh payudaranya yang sangat seksi itu.. Dari samping kepalanya tanganku menjulur dan menyeruak masuk kedalam kaus ketatnya, mencoba menyentuh dan meremas bongkahan buah dada yang sangat merangsang itu..
Anggi tidak menyangka atas gerakan tanganku, dan untuk beberapa saat dia terpana sehingga tanganku berhasil masuk kebalik kausnya dan meremas buah dadanya.. Ketika dia tersadar, dia berusaha bangkit dari sofa; tapi gerakan tangan kananku cepat meraih pinggangnya dan menariknya hingga terjatuh kepangkuanku..
“Kamu mau pekerjaan ini, atau tidak Nggi?” ujarku sambil tetap memeluk pinggangnya dengan tangan kananku, dan tangan kiriku masih berada dalam kausnya meremas-remas buah dadanya yang besar itu.. “Atau kamu mau membiarkan kedua adikmu berhenti sekolah?”
Perlawanannya melemah ketika mendengar perkataanku, dan kembali tangan kiriku bergerilya dibalik kaus ketatnya, mencoba masuk kebalik BH-nya. Dia menggelinjang ketika tanganku berhasil menyentuh putingnya..
“Uugghhh..pak Iwan, jaangaann dong pak..” ujarnya lirih.. Aku tak menggubris keberatannya, malah tangan kananku segera mencoba untuk merebahkan tubuhnya ke sofa.. Ketika tubuhnya berhasil aku rebahkan di sofa, segera kedua tanganku menarik kaus ketatnya keatas, dan menyembullah bongkahan daging kenyal yang masih tersembunyi di balik BH hitamnya yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih sekali..
Kutindih tubuhnya dan segera wajahku terbenam di antara dua bongkah putih payudara yang sangat merangsang itu.. Kupegang kedua tangannya dengan tanganku, dan dengan menggigit pinggiran BH-nya kucoba untuk menariknya ke atas.. Yesss..akhirnya menyembullah dua buah dada yang putih, bulat, dan membusung..
Anggi masih berusaha mendorong tubuhku yang tepat berada di atasnya, tapi kuncian posisi yang kuciptakan berhasil untuk melemahkan perlawanannya.. Akhirnya dia membiarkan saja ketika mulutku segera menerkam payudaranya yang putih, bulat, dan tegak menantang..
Putingnya yang berwarna sawo matang dengan pucuk yang agak kecil segera terbenam dalam mulutku.. “Eerrggghhh…” erang Anggi ketika ujung lidahku mulai mempermainkan putingnya.. Wajahnya yang cantik nampak berusaha menahan rangsangan yang timbul ketika mulut dan lidahku bergantian menyerang kedua buah payudara indahnya, dan bulir-bulir keringat makin banyak muncul didahinya..
Melemahnya perlawanan Anggi kugunakan untuk membuka kancing BH-nya, dan ketika berhasil, segera kuangkat kausnya melewati kepalanya.. Akhirnya aku berhasil menelanjangi bagian atas tubuh Anggi..
Kembali lagi mulut dan lidahku menerkam buah dada kiri Anggi dan mengulum serta mempermainkannya dan putingnya menjadi sentral kulumanku, sembari telapak tangan kananku mulai meremas buah dada kanannya dan jariku mempermainkan putingnya yang indah..
Sepuluh menit berlalu dan rangsangan yang kutimbulkan ternyata menguras habis tenaga Anggi, sehingga dia tidak menyadari ketika tanganku berhasil membuka kaitan celana panjang yang dia kenakan..
Dia masih berusaha menahan rangsangan yang timbul dari kuluman dan isapanku pada kedua buah dadanya, ketika tangan kananku mulai menarik turun celana panjangnya.. Ketika sampai kedekat tumitnya, segera kugunakan kakiku untuk mendorongnya lepas.. Indah sekali tubuh Anggi, ketika tinggal celana dalam hitamnya tertinggal melekat di tubuhnya..
Sambil tidak mengurangi seranganku pada kedua buah dadanya, segera jari-jariku menyusuri pinggiran celana dalamnya sambil mencoba memasukkan jari tengahku kebalik celana dalamnya.. Heemmm…ternyata vaginanya sudah mulai basah ketika jari tengahku berhasil menyentuhnya.. Berarti dia mulai terangsang dengan seranganku..
Kucoba untuk mencari klitorisnya, dan ketika jari tengahku berhasil mencapainya terdengar kembali erangan lemahnya “Aarghhh..paaakk..” Wajahnya terdongak keatas ketika jariku mulai mempermainkan klitorisnya dan erangannya makin merangsangku untuk menyerangnya di kedua titik lemahnya..
Ketika Anggi makin tak mampu menahan rangsangan yang menyerangnya, kugerakkan tanganku untuk mencoba melepaskan lapisan terakhir yang menghalangi.. Perlahan berhasil kutarik hingga lututnya, dan karena aku konsentrasi untuk melepaskan celana dalamnya, maka seranganku pada buah dadanya agak mengendur..
Kesadarannya sedikit pulih, saat aku mendorong turun celana dalamnya dengan kaki kananku.. “Paakk..jangaann…pakk…” erangnya kembali sambil berusaha mendorong tubuhku.. Kuhentikan usahaku untuk melepaskan celana dalamnya, dan kubiarkan tertinggal ditumitnya, ketika aku mulai kembali mengisap puting kanannya dan jariku memutar-mutar puting kirinya.. Erangannya terdengar makin kuat..
“Aarrrgghh…uuugghhh…paaaakk..” Setelah dia kembali tenggelam dalam rangsangan yang kutimbulkan, dengan kaki kananku segera kudorong lepas celana dalamnya melewati tumitnya.. Wahh…memang indah benar tubuh calon sekretarisku ini dalam keadaan telanjang bulat.. Bulu-bulu hitam membasah yang menghiasi vaginanya sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih bak pualam…
Perlahan sambil mengubah posisiku menduduki tubuh Anggi, kulepaskan kemejaku dan segera kembali kuserang payudaranya sebelum dia menyadari tubuh atasku sudah telanjang.. Sambil terus mengulumi payudara indahnya, perlahan kulepaskan celana panjang sekaligus celana dalamku..
Akhirnya tidak ada lagi yang menghalangi tubuh telanjang kami berdua, untuk langsung bersentuhan kulit ke kulit.. Tak terasa butuh waktu hampir 45 menit untuk berhasil menelanjangi tubuh calon sekretarisku yang cantik ini, dan perlawanannya semakin melemah.. Keringat telah banyak membanjiri tubuh kami berdua..
Jari tangan kananku kembali mempermainkan klitorisnya yang sudah sangat basah, dan kucoba untuk masuk lebih dalam lagi kedalam vagina Anggi.. Uugghhh..masih peret sekali vaginanya.. Kurenggangkan kedua belah pahanya, dan mulai kutempatkan kepala penisku diantara belahan pangkal pahanya..
Ketika mulai menyentuh mulut vaginanya, segera kugosok-gosokan kepala penisku dan kucoba untuk menekannya masuk.. Anggi menyadari adanya benda yang mencoba masuk kedalam vaginanya, “Paakk..jangaann paak..” erangnya lemah..”
Aku masih perawaann paaakk..” suaranya membisik lemah sambil mencoba untuk menghindari masuknya penisku dengan menggeser pinggangnya.. Segera kugeserkan pinggangku menyejajari gerakan pinggangnya, sambil kupegangi pinggangnya dengan tangan kiriku, kuarahkan kembali penisku dengan tangan kananku kearah vaginanya..
“Udaahh Nggi.. Kamu mau pekerjaan ini atau tidak sihh..” suaraku tegas sambil tidak melepas kuncianku pada pinggangnya.. Perlahan kembali kutekan kepala penisku masuk ke vagina Anggi, dan akhirnya berhasil masuk bagian kepalanya..
Kugoyangkan dengan gerakan memutar untuk memperlebar vagina Anggi yang ternyata masih benar-benar perawan nampaknya.. Kutekan lagi penisku, dan kali ini berhasil masuk setengahnya.. Cengkeraman vagina Anggi sangat luar biasa rasanya, membuat penisku seakan dicengkeram erat kedinding vaginanya..
Wajah Anggi seakan menahan sakit bercampur nikmat yang luar biasa, ketika kembali kugerakan penisku memutar untuk memperlebar vaginanya.. Kucoba untuk mencium bibirnya yang mungil, sembari tanganku meremas-remas buah dadanya yang besar.. Kusedot dan kuhisapi bibirnya, dan lidahku akhirnya bisa menerobos masuk kedalam bibirnya..
Kusapu rongga mulutnya dengan lidahku, dan kemudian aku berhasil menyedot lidahnya dalam kuluman bibirku.. Usahaku ini berhasil untuk membantu mengurangi cengkeraman vaginanya yang sangat erat, dan akhirnya dengan sebuah tekanan yang kuat, penisku berhasil menembus benteng selaput keperawanan Anggi dan amblas sepenuhnya dalam vaginanya..
Hangat sekali terasa dikulit penisku, ketika vagina Anggi mendekap erat.. Kubiarkan sebentar sambil kuperhatikan kernyitan di dahi Anggi, kurasa dia sedang berusaha menahan rasa perih akibat pecahnya selaput keperawanannya..
Butir keringat membasahi dahinya yang indah, dan kulihat dia menggigit bibir bawahnya.. Aahhh..cantik sekali kamu Anggi.. Perlahan kugerakkan pinggangku mundur, dan dengan perlahan pula kutekan maju kembali..
Masih peret sekali kurasakan vagina Anggi.. Perlahan kutambah kecepatan dan kekuatan tekananku, kernyitan di wajah Anggi juga mulai menguap digantikan oleh erangan kenikmatan “Aahhh…aahhh….aahhh…”
Semangatku semakin bertambah, dan semakin kencang pula aku memaju mundurkan penisku.. Gesekan kulit penisku dengan dinding vagina Anggi, membuat syaraf-syarafku terangsang dengan hebat.. Takut tak dapat menahan rangsang itu, kulambatkan gerakanku.. Dua puluh menit telah berlalu, Anggi tak dapat menyembunyikan kenikmatan yang dia rasakan..
Erangannya makin sering terdengar, dan akhirnya memuncak dengan dekapan erat lengannya dipunggungku.. Kukunya yang tajam mencengkeram dan menusuk kulit punggungku, ketika akhirnya dia mencapai orgasmenya yang pertama..
Kuhentikan gerakanku untuk memberinya kesempatan menikmati orgasmenya, dan kucium lembut bibirnya sambil membiarkan penisku tetap terbenam dalam vaginanya.. Tak sadar dia membalas ciumanku, dan bibirnya lembut menyapu bibirku.. Tubuhnya lemas tergolek saat kulepaskan penisku dari dalam vaginanya..
Meleleh cairan kenikmatan Anggi, bercampur dengan darah keperawanannya nampak membasah keluar dari vaginanya.. Kuambil tissue yang terletak dimeja kecil di samping tempat tidur, dan kuhapus lelehan cairan kenikmatan dan darah perawan Anggi.. Kumiringkan pinggangnya ke kanan, dan kuangkat kaki kanannya ke atas sembari kembali kutekankan penisku masuk ke dalam vaginanya…
Pantatnya yang putih indah mulai bergoyang saat aku mulai menggerakkan pinggangku maju-mundur.. Setelah cukup pelumasnya membasahi, kupercepat gerakanku.. Kuletakan kakinya dipundakku, dan sambil meremasi buah dadanya yang indah, kupercepat gerakan maju-mundur penisku..
Lima belas menit tak terasa, keringat makin membajiri tubuhku, sebagian jatuh menetes di pahanya.. Rangsangan membuat wajah cantik Anggi nampak semakin seksi.. Kuletakkan kembali kaki kanan Anggi, dan sembari dalam posisi duduk kuletakan kedua belah pahanya di atas pahaku.. Kembali kugerakkan pinggangku maju mundur, sambil memperhatikan buah dadanya bergoyang indah seirama dengan gerakan pinggangku..
Uuhhhh… indah sekali pemandangan ini, apalagi wajah cantik Anggi sudah tak mampu lagi menyembunyikan kenikmatan yang dia rasakan.. Gerakanku makin cepat, dan akhirnya aku tak tahan lagi untuk tidak menerkam buah dada yang bergerak indah tadi dengan mulutku.. Sembari tidak mengurangi kecepatan gerakan pinggangku, kukulum dan kadang kugigit pelan buah dada Anggi..
Rangsangan itu makin membara, dan akhirnya aku tak mampu lagi menahan kenikmatan itu.. Bebarengan dengan orgasme kedua Anggi, yang ditandai dengan cengkeraman kuat kuku tangannya dipunggungku, kuhunjamkan keras penisku sampai kedasar vaginanya, saat aku mencapai puncak.
Dan penisku menyemburkan sperma ke dalam vagina Anggi hingga lima kali… Tubuhku ambruk menindih tubuh Anggi, terasa nikmat sekali saat dadaku menekan buah dadanya yang besar dan kenyal itu.. Peluh benar-benar telah membanjiri tubuh kami berdua, tumpah hingga ke sprei kasur yang sudah nampak kusut sekali..
Dibeberapa bagian, kulihat ceceran darah perawan Anggi tercetak jelas di atas sprei itu.. Setelah penisku mengecil, kulepaskan dan kurebahkan tubuhku disebelah tubuh indah Anggi.. Sempat kulihat titik air mata membasahi kelopak mata Anggi, dan isakan tangisnya pelan terdengar..
Segera kuciumi rambut, dahi, dan akhirnya kelopak matanya yang basah oleh air mata, sembari kubisikan kata-kata untuk menenangkannya.. “Udahlah Anggi, semua sudah terjadi..” “Kamu jangan takut ya..
Aku pasti akan bertanggung jawab koq..” Kucium bibirnya yang masih terisak-isak, dan kudengar lirih suaranya..” Pakk..Anggi udah gak perawan lagi.. Bagaimana nanti Anggi mesti cerita ke pacar Anggi paakk..?”
“ Sudahlah Nggi, nanti kita pikirkan ya.. Pokoknya aku akan bantu kamu sepenuhnya.. Okay?” ujarku seraya membelai rambut yang jatuh didahinya, dan mengecup bibirnya lembut.. Belaian dan kecupanku berhasil membuatnya tenang, kupeluk tubuhnya yang masih telanjang dalam dekapan kedua tanganku..
Dia menyurukkan kepalanya dalam pelukanku, dan kutarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami berdua.. Tak lama nampak dia tertidur kelelahan dalam dekapanku.. “Anggi…Anggi..” desahku pelan, seraya terjatuh dalam pelukan tidur yang nikmat..

Sunday, May 21, 2017

Cerita Dewasa : Tante Mirna si Janda Seksi

Udara yang segar di pagi hari tanggal merah dan artinya aku sedang libur, aku nikmati pagi ini dengan membuat teh , dan melihat tante Mirna sedang memperhatikan bunganya di taman , Nampak dari kejauhan wajah yang angkuh tetapi dia sangat cantik jika dilihat secara seksama, setelah duduk aku lebih asyik melihat gerak gerik tante Mirna ketimbang menyeduh tehku.


Dengan gaya ala petani bunga Cibodas, tante Mirna nampak srius mmperhatikan tanaman itu.
” Pagi tan ” sapaku.
” Hmm… ” balasnya tanpa brpaling dari rumpunan bunga.
” Mau aku buatin minum nda tan!? ” tanyaku lagi stengah mnawarkan jasa.
” Nda usah!! ” jawabnya juga seraya mmblakangiku. Aku tak mlihat tante Rita, Hendri ataupun Nita pagi ini.
” Ach, pada lari pagi kali? ” fikirku dalam hati.
Aku kmbali mmperhatikan tante Mirna yg mmblakangiku. Mulai dari betisnya yg putih mulus mskipun nampak kurus, pahanya yg lebih mulus dari betisnya, bokongnya meskipun trbalut clana pendek, namun trlihat jelas lekukannya.
” Coba dia bisa aku tiduri sperti tante Rita ya? ” gumanku dalam hati. Belum habis lamunanku,tiba tiba kulihat tubuh tante Mirna trhuyung lemah ingin trsungkur.
Dengan cepat aku mloncat dan mmegangi tubuhnya yg nyaris trsungkur itu, mninggalkan sisa lamunan cabulku.
Kurangkul tubuhnya yg mulus dan trlihat lemas sekali. “Ga papa kan tan??” tanyaku penuh rasa khawatir, sraya mmapah tubuh tante Mirna.
“Kpalaku trasa pusing Fad” jawab tante Mirna lemah. “Ya udah, istirahat aja didalam” saranku sambil terus memapahnya ke dalam rumah. “Akhirnya aku bisa mrangkulmu Vone” ucapku dalam hati. Ada sjuta kebahagian dihatiku karna mampu mrangkul tubuh si angkuh trsebut.
Stelah brada didalam rumah, dengan perlahan kududukan tante Mirna disofa ruang tamu. Dengan mnarik nafas tante Mirna duduk dan brsandar pada sandaran sofa. Stelah itu aku melangkah mninggalkannya sendiri.
Tak brapa lama aku kembali dngn sgelas air hangat dan mnghampiri tante Mirna yg tengah brsandar disandaran sofa. “Minum dulu tan, biar enakan!” ujarku sambil mnyerahkan gelas brisi air hangat yg kubawa. Tante Mirna pun mminum air hngt yg kuberikan. “Makasih ya Fad” ucapnya lemah sambil mletakan gelas dimeja yg ada didepannya.
“Kpalanya masih pusing ga tan!?” tanyaku.
Tante Mirna hanya mnganggukan kpalanya.
“Mau dipijatin ga!?” tanyaku lagi.
“E, em” jawab tante Mirna prlahan seakan tengah mnahan sakit. Aku pun sgera memijat mulai dari kpalanya dngn prlahan lahan, kmudian dahinya yg dia bilang mrupakan pusat rasa sakitnya.
“Wah, knapa tante Fad!?” tanya Nita yg baru saja pulang.
“Tadi si tante hampir jatuh, kpalanya pusing Nit!” jawabku.
” Trlalu capek kali!? ” ujar Nita sambil mlangkah kedapur. “Dah aga mndingan Fad” jelas tante Mirna dngn mata terpejam, menikmati pijatan pijatan jariku. Terasa hangat dahinya brsamaan dngn rasa hangat yg menjalari tubuhku.
Harum aroma tubuh tante Mirna trasa mnusuk kedua lobang hidungku. Mmbuat aku ingin lebih lama lagi memijat dan dekat dngnnya.
“Masuk angin kali tan, dahinya aga anget ne!? ” jelasku, brupaya memancing agar niatku tercapai. “Iya kali? “ujarnya pula, seakan mngerti akan arti ucapanku. Membuatku makin brani lebih jauh. “Mau dikerikin ga!?” tanyaku dngn penuh haraf kepadanya.
“Memang kamu bisa!?” tante Mirna balik brtanya. Membuat hatiku trasa brdebar tak karuan.
“Ya bisa… ” jelasku dngn cepat, takut tante Mirna brubah fikiran lagi.
“Ya udah, tapi dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Mirna.
Mmbuat hatiku brdebar makin cepat. Dengan prlahanku papah dia mlangkah mnuju kamarnya. Akupun brusaha untuk menahan dan menenangkan hatiku. Yang mulai dirasuki niat dan fikiran kotorku.
Setelah brada didalam kamar, kusarankan agar dia istrahat diranjangnya. Tante Mirna pun mrebahkan tubuhnya sraya brnafas panjang.
Seolah olah ada beban berat yg dibawanya. Aku sgera brlalu mngambil obat gosok dan coin untuk mengerik tubuh tante Mirna. Stelah kudapati smua yg kubutuhkan, aku kembali mnghampiri tante Mirna yg tengah menanti.
Dengan mmbranikan diri aku memintamya agar dia mlepaskan pakaian yg dipakainya. Dia pun prlahan melepaskan pakaian atau baju yg dipakainya. Shingga tante Mirna kini hanya mngenakan bra yg brwarna pink dan clana pendek saja.
Ada getaran hangat mnjalari sluruh tubuhku, saat menyaksikan tante Mirna mmbuka bajunya. Hingga mmbangunkan kjantanan dan hawa nafsuku. Yang memang telah mngendap dibenakku sejak awal, ketika memprhatikan dia ditaman.
Dengan prasaan yg tak mnentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Akupun mulai mngusap …..usap punggung mulus yg mmblakangiku, dngn hati hati sekali.
“Tali branya dibuka aja ya tan??” pintaku pnuh haraf sambil trus mngusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku. “Iya… ” jawabnya lirih.
Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli aku tak tau. Yang pasti tanganku sgera melepaskan kait tali branya, sehingga mmbuat branya mlorot mnutupi sbagian payudaranya yg bulat dan berisi.
Sperti payudara milik gadis kebanyakan. Stelah tiada lagi penghalang dipunggungnya, akupun membalurinya dngn minyak gosok. Dan jari jemarikupun menari mmbentuk garis dipunggung tante Mirna. Sambil sekali kali mataku melirik kearah payudaranya yg brusaha ditutupi dngn bra dan kedua tlapak tangannya.
Tapi hal trsebut mmbuatku smakin terangsang didorong rasa pnasaran yg tramat. Smentara tante Mirna hanya trdiam sraya mmejamkan matanya yg bulat dan indah.
” Pelan pelan ya Fad!? ” pintanya masih dngn mata yg trpejam.
Tiba tiba pintu kamar prlahan terbuka, nampak Nita tengah brdiri dimuka pintu. “Tan aku mo kerumah tman dulu ya!?” ujar Nita brpamitan sraya matanya mlirik kearahku. “Iya Nit… ” balas tante Mirna tanpa brpaling kearahnya. Kmudian scara prlahan Nita mnutup pintu kembali dan brlalu pergi.
Jari tanganku mulai nakal trhadap tugasnya, jariku trkadang nyelinap dibawah ketiaknya brusaha meraih benda yg bulat dan padat brisi yg ditutupinya. Tapi tangan tante Mirna terkadang brusaha mnghalanginya, dngn merapatkan pangkal lengannya.
“Jari kamu nakal ya Fad!? ” ucap tante Mirna stengah berbisik seraya mlirik ke arahku. Membuatku trsipu malu. “Habis ga kuat sich, tan…” jawabku jujur. Tapi tante Mirna malah melepaskan branya shingga kini payudaranya nampak polos tanpa plindung lagi.
Dan langsung menjadi santapan kedua mataku tanpa brkedip. Langsung mmbuat hatiku brdebar debar mnyaksikan pemandangan trsebut.
“Sekarang bisa kamu plototin pe puas dech!!” ujar tante Mirna tak lagi mnutupit buah dadanya dngn kedua tlapak tangannya lagi. Jantungku trasa bgitu cepat brdetak dan mmbuat lemas sluruh prsendianku. Kontolku brlahan tapi pasti mulai brdiri tegak mngikuti dorongan hasratku.
“Memang dah selesai ngeriknya Fad!?” tegur tante Mirna mngingatkanku. Mmbuat aku sgera mlanjutkan prkerjaanku yg trtunda sesaat. Hampir sluruh bagian belakang tubuh tante Mirna telah kukerik dan brwarna merah brgaris garis.
Hanya bagian bokongnya yg luput dari kerikanku karna trhalang dngn clana pendek serta CD yg dikenakannya. Tapi belahan bokongnya telah puas kuplototin.
Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Kemudian dngn prlahan jari jariku memijati pundaknya. Tante Mirna mnundukan kpalanya, sekali sekali trdengar suara dahak dari mulutnya. “Sudah Fad!” printahnya, agar aku mnyudahi pijatanku.
Dengan prasaan malas akupun mnghentikan pijatanku dan sgera mmbrsihkan sisa sisa minyak dikedua tlapak tngnku. ” Cuci tanganmu dulu biar bersih sana!!” pinta tante Mirna skaligus printah. Akupun branjak pergi kekamar mandi yg memang ada didalam kamar trsebut.
Stelah usai mncuci sluruh tanganku hingga bnar bnar bersih. Akupun kembali menghampiri tante Mirna yg tengah telentang diatas ranjang masih dngn keadaan sparuh bugil. Sperti saat aku tinggalkan kekamar mandi. Hingga payudaranya yg bulat dan brisi nampak mmbusung besar didadanya, dngn puting yg brwarna coklat susu.
“Ayo Fad, kamu mau mainin ini kan!?”. “Aku juga mau kok!?” ucap tante Mirna sambil mremas salah satu payudaranya hingga putingnya mnonjol kearahku. Akupun mndekat mnghampirinya dngn perasaan nafsu. Membuat kontolku kian brdiri dan mngeras kencang dibalik clanaku.
Akupun tak mnunggu lebih lama, sgeraku remasi payudaranya yg mnantang. Tante Mirna brgelinjang saat tlapak tanganku mndarat dan meremas kedua payudaranya. ” Achh.., iya Fad trussss ” rintihnya prlahan. Jari jemariku kian liar mremasi sluruh daging bulat yg padat brisi.
JariQ juga memainkan putingnya yg mulai mngeras. ” Iya,.., ayo diisep Fad.., aaaayooo “pinta tante Mirna dngn nafas taj tratur. Akupun sgera mnjilati dan mengisapi puting payudaranya.
“Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante Mirna sraya mmegangi kpalaku. Aku smakin brnafsu dngn puting yg kenyal sperti urat dan mnggemaskan.
Smentara tante Mirna smakin mndesah tak karuan. Tangan kananku meluncur kearah slangkangan dibawah pusar, trus mnyusup masuk diantara clana dan CD tante Mirna. Hingga jari jariku trasa mnyentuh rumput halus yg cukup lebat didalamnya.
Tante Mirna mmbuka pahanya tak kala jari tlunjukku brusaha masuk kedalam lobang yg ada ditengah bulu bulu halus miliknya.
“Aowww…” jerit kecil tante Mirna saat tlunjukku brhasil memasuki lobang memeknya. Dia pun mnggeliatkan tubuhnya penuh gairah nafsu. Smentara kontolku smakin mngeras hendak kluar dari bahan yg mnutupinya.
Cukup lama jari tlunjukku kluar masuk didalam memek tante Mirna, hingga lobang itu mulai trasa basah dan lembab. Sampai akhirnya tangan tante Mirna menahan gerakan tanganku dan mminta mnyudahinya.
“Aaaachhh.., udaahhh., Faddh.., aaachh” rintih tante Mirna. Akupun menarik tanganku dari balik clananya dan mlepaskan putingnya dari mulutku.
“Buka pakaianmu dong, Fad!!” seru tante Mirna sraya bangkit dan mlepaskan clana pendek serta CDnya. Shingga dia bugil dan nampak rumput hitam ditengah slangkangannya yg baru saja ku obok obok. Akupun mlepaskan smua pakaianku dan bugil sperti dirinya.
Dengan senyum manis kearahku, tante Mirna mendekat dan brjongkok tepat didepan slangkanganku. “Aouw, gede banget..!!” seru tante Mirna sraya tlapak tangannya mraih kontolku yg telah brdiri dan keras.
Dngn tangan kanan dia mmegang erat batang kontolku, sedangkan tlapak kirinya mngelus elus kpalanya. Hingga kpala kontolku trasa brdenyut hangat. Kmudian dimasukan kontolku kedalam mulutnya sraya matanya mlirik ke arahku.
“Agghhh… “aku mlengguh tak kala sluruh kontolku tnggelam masuk kedalam mulutnya. Darahku brdesir hangt mnjalari sluruh urat ditubuhku. Aku hanya dapat memegangi kpala tante …
…Mirna, mremas serta mngusap usap rambutnya yg ikal dan panjang. Smentara tante Mirna smakin liar, sbentar mngulum dan mngemud seakan dia ingin melumat sluruh kontolku.
Trnyata dia lebih buas dari tante Rita. Trkadang dia mnjilati dari batang hingga lobang kencing dikpalanya. ” Aaaaaaa… ” erangku menahan rasa nikmat nan tramat. Trasa tubuhku melayang jauh tak menentu.
Entah brapa lama tante Mirna mngemut, mnjilat dan mngulum kontolku. Yg jelas hal ini mmbuat tubuhku brgetar dan hampir kejang.
” Gantian dong tan, aku juga mau jilatin memekmu! ” rengekku, hampir tak mampu mnahan nafsuku. Ingin rasanya memuntahkan keluar sebanyak banyak. Agar tante Mirna mandi dngn air maniku.
Tante Mirna sgera bangkit brdiri meninggalkan kontolku yg masih brdiri tegak. Kmudian aku mminta agar dia duduk dikursi tanpa lengan yg ada. Akupun brjongkok mnghadap memeknya yg dihiasi bulu lebatnya. Kedua kaki tante Mirna trtumpu pada kedua bahuku.
Maka mulutku mulai mnjarah memek yg tlah mnganga terkuak jari jemariku, hingga nampak jelas lobang memek yg brwarna merah dan lembab. Lidahku pun mulai mnjelajahi dan mnjilati lorong itu.
“Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., trussss, aassstttssh” desah tante Mirna saat lidahku brmain mnjilati lobang memeknya. “Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh” rintihnya pula sambil mremas dan mnjambaki rambut dikpalaku. Lidahkupun smakin liar dan brusaha masuk lebih dalam lagi.
“Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante Mirna tak karuan. Lidahku brhenti mnjilati dinding lobang memek, kini brpindah pada daging mungil sbesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yg brwarna merah dan basah dngn air mazinya dan air liurku.
“Aughh…..” suara tante Mirna sperti tersedak sambil mrapatkan kedua pahanya, hingga mnjepit leherku, ketika ku isap itilnya. ” Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” ucap tante Mirna lirih. ” Udahhh…, Fad…, udddaah Faadd ” rengek tante Mirna sraya mndorong kpalaku dngn kakinya yg trkulai lemas dibahuku.
Akupun mlepaskan isapan mulutku pada itil tante Mirna dan bangkit brdiri dihadapannya dngn kontol yg masih tegak dan keras. Kemudian mminta tante Mirna agar bangkit dari duduknya. Kini aku yg mnggantikan posisinya duduk dikursi.
Tante Mirna naik keatas pahaku dan tubuhnya mnghadap kearahku, hingga tubuh kami saling brhimpitan. Kmudian tante Mirna mmbimbing kontolku masuk kelobang memeknya dngan jarinya. ” Aagghhsss.. ” rintih kecil tante Mirna ketika kontolku masuk menusuk memeknya.
Tak lama kmudian bokongnya mulai turun naik, mngesek gesek kontolku didalamnya. Aqpun mngimbanginya dngn mmegangi pinggulnya mmbantu bokongnya turun naik. ” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Fadd “.
” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa ” racau tante Mirna tak karuan jika tubuhnya turun mnenggelamkan kontolku dimemeknya. ” Aauwww, aku ga tahan ne Fadd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante Mirna sraya mnggerakan bokongnya dngn cepat.
Akupun mmbalas reaksinya, dengan melumat lagi payudaranya .”Aaaaaawhhh……..”erang tante Mirna sambil mnekan bokongnya lebih rapat dengan slangkanganku. Akupun mengejang mnahan tekanan bokong tante Mirna.
“Aaaachhhh…….” akhirnya aku tak mampu lagi mmbendung cairan kental dari dalam kontolku. Kamipun saling brpelukan dngn erat beberapa saat dngn brcampur peluh masing masing.
Stelah cukup lama kami brpelukan, kamipun bangkit dngn malas, enggan branjak dari suasana yg ada. Stelah itu kamipun mandi mmbrsihkan tubuh kami masing masing yg basah dngn peluh syurga.

Thursday, May 18, 2017

Cerita Dewasa : Liputan Kampanye Berujung Kenikmatan

Memori yang tak dapat kulupakan. Namaku Didik, aku bekerja di sebuah harian ibukota. Baiklah ceritanya begini…Malam itu tanggal 2 Juni 1999 sekitar pukul 21.30. Aku di dalam mobilku sedang keliling-keliling kota Jakarta. Rencananya aku hendak meliput persiapan kampanye partai-partai yang katanya sudah ada di seputar HI.


Aneh, kampanye resminya besok, tapi sudah banyak yang bercokol di putaran HI sejak malam ini. Kelihatannya mereka tidak mau kalah dengan partai-partai lain yang kemarin dan hari ini telah memanjat patung selamat datang, memasang bendera mereka di sana.
Tercatat pp, PND, PBB, PKB, PAN dan PK telah berhasil. Dengan korban beberapa orang tentu saja. Entah apa yang dikejar mereka, para simpatisan itu. Kebanggaan? Atau sebuah ketololan. Kalau ternyata mereka tewas atau cedera, berartikah pengorbanan mereka? Apakah para ketua partai itu kenal sama mereka? Apakah pemimpin partai itu menghargai kenekadan mereka? Lho, kok aku bicara politik.
Biarinlah. Macam-macam saja ulah mereka, maklumlah sudah saat kampanye terakhir
buat partai-partai di Jakarta ini.
Di depan kedutaan Inggris aku parkirkan mobilku, bersama banyak mobil lainnya. Memang aku lihat ada beberapa kelompok, masing-masing dengan bendera partai mereka dan atribut yang bermacam-macam.
Aku keluarkan kartu persku, tergantung di leher. Juga Nikon, kawan baik yang menjadi sumber nafkahku. Aku mendekati kerumunan simpatisan partai. Bergabung dengan mereka. Berusaha mencari informasi dan momen-momen penting yang mungkin akan terjadi.
Saat itulah pandanganku bertemu dengan tatap mata seorang gadis yang bergerombol dengan teman-temannya di atap sebuah mini bus. Wajahnya yang cantik tersenyum kepadaku.
Gadis itu memakai kaos partai yang mengaku reformis,—aku rahasiakan saja baiknya—yang telah dipotong sedikit bagian bawahnya, sehinggs seperti model tank top, sedangkan bawahannya memakai mini skirt berwarna putih. Di antara teman-temannya, dia yang paling menonjol. Paling lincah, paling menarik.
“Mas, Mas wartawan ya?” katanya kepadaku.
“Iya”.
“Wawancarai kita dong”, Salah seorang temannya nyeletuk.
“Emang mau?”.
“Tentu dong. Tapi photo kita dulu…”
Mereka beraksi saat kuarahkan kameraku kepada mereka. Dengan lagak dan gaya masing-masing mereka berpose.
“Kenapa sudah ada di sini, sih? Bukankah ____ (nama partai) baru besok kampanyenya?”.
“Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?”.
“Memang akan terus di sini? Sampai pagi?”.
“Iya, demi ____ (nama partai), kami rela begadang semalaman.”
“Hebat.”
“Mas di sini aja, Mas. Nanti pasti ada lagi yang ingin manjat tugu selamat datang.” Kata gadis yang menarik perhatianku itu.
Aku pun duduk dekat mereka, berbincang tentang pemilu kali ini. Harapan-harapan mereka, tanggapan mereka, dan pendapat mereka. Mereka lumayan loyal terhadap partai mereka itu, walaupun tampak sedikit kecewa, karena pemimpin partai mereka itu kurang berani bicara. Padahal diproyeksikan untuk menjadi calon presiden. Aku maklum, karena tahu latar belakang pemimpin yang mereka maksudkan itu.
“Eh, nama kalian siapa?” Tanyaku, “Aku Didik.”
“Saya Anita.” Kata cewek manis itu, lalu teman-temannya yang lain pun menyebut nama. Kami terus bercakap-cakap, sambil minum teh botol yang dijual pedagang asongan.
Waktu terus berlalu. Beberapa kali aku meninggalkan mereka untuk mengejar sumber berita. Malam itu bundaran HI didatangi Kapolri yang meninjau dan ‘menyerah’ melihat massa yang telah bergerombol untuk pawai dan kampanye, karena jadwal resminya adalah pukul 06.00 – 18.00.
Saat aku kembali, gerombolan Anita masih ada di sana.
“Saya ke kantor dulu ya, memberikan kaset rekaman dan hasil photoku. Sampai ketemu.” Pamitku.
“Eh, Mas, Mas Didik! Kantornya “x” (nama koranku), khan. Boleh saya menumpang?” Anita berteriak kepadaku.
“Kemana?”
“Rumah. Rumah saya di dekat situ juga.”
“Boleh saja.” Kataku, “Tapi katanya mau tetap di sini? Begadang?”
“Nggak deh. Ngantuk. Boleh ya? Gak ada yang mau ngantarin nih.”
Aku pun mengangguk. Tapi dari tempatku berdiri, aku dapat melihat di dalam mini bus itu ada sepasang remaja berciuman.
Benar-benar kampanye, nih? Sama saja kejadian waktu meliput demontrasi mahasiswa dulu. Waktu teriak, ikutan teriak. Yang pacaran, ya pacaran. (Ini cuma sekedar nyentil, lho. Bukan menghujat. Angkat topi buat gerakan mahasiswa kita! Peace!)
Anita menggandengku. Aku melambai pada rekan-rekannya.
“Anita! Pulang lho! Jangan malah…” Teriak salah seorang temannya.
Anita cuma mengangkat tinjunya, tapi matanya kulihat mengedip.
Lalu kami pun menuju mobilku. Dengan lincah Anita telah duduk di sampingku. Mulutnya berkicau terus, bertanya-tanya mengenai profesiku. Aku menjawabnya dengan senang hati. Terkadang pun aku bertanya padanya. Dari situ aku tahu dia sekolah di sebuah SMA di daerah Bulungan, kelas 2. Tadi ikut-ikutan teman-temannya saja. Politik? Pusing ah mikirinnya.
Usianya baru 17 tahun, tapi tidak mendaftar pemilu tahun ini. Kami terus bercakap-cakap. Dia telah semakin akrab denganku.
“Kamu sudah punya pacar, belum?” Tanyaku.
“Sudah.” Nadanya jadi lain, agak-agak sendu.
“Tidak ikut tadi?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Lagi marahan aja.”
“Wah.., gawat nih.”
“Biarin aja.”
“Kenapa emangnya?”
“Dia ketangkap basah selingkuh dengan temanku, tapi tidak mengaku.”
“Perang, dong?”
“Aku marah! Eh dia lebih galak.”
“Dibalas lagi dong. Jangan didiemin aja.”
“Gimana caranya?” Tanyanya polos.
“Kamu selingkuh juga.” Jawabku asal-asalan.
“Bener?”
“Iya. Jangan mau dibohongin, cowok tu selalu begitu.”
“Lho, Mas sendiri cowok.”
“Makanya, aku tak percaya sama cowok. Sumpah, sampai sekarang aku tak pernah pacaran sama cowok. Hahaha.”
Dia ikut tertawa.
Aku mengambil rokok dari saku depan kemejaku, menyalakannya. Anita meminta satu rokokku. Anak ini badung juga. Sambil merokok, dia tampak lebih rileks, kakinya tanpa sadar telah nemplok di dashboardku. Aku merengut, hendak marah, tapi tak jadi, pahanya yang mulus terpampang di depanku, membuat gondokku hilang.
Setelah itu aku mulai tertarik mencuri-curi pandang. Anita tak sadar, dia memejamkan mata, menikmati asap rokok yang mengepul dan keluar melalui jendela yang terbuka. Gadis ini benar-benar cantik. Rambutnya panjang. Tubuhnya indah. Dari baju kaosnya yang pendek, dapat kulihat putih mulus perutnya. Dadanya mengembang sempurna, tegak berisi.
Tanpa sadar penisku bereaksi.
Aku menyalakan tape mobilku. Anita memandangku saat sebuah lagu romantis terdengar.
“Mas, setelah ini mau kemana?”
“Pulang. Kemana lagi?”
“Kita ke pantai saja yuk. Aku suntuk nih.” Katanya menghembuskan asap putih dari mulutnya.
“Ngapain”
“Lihat laut, ngedengerin ombak, ngapain aja deh. Aku males pulang jadinya. Selalu ingat Ipet, kalau aku sendirian.”
“Ipet?”
“Pacarku.”
“Oh. Tapi tadi katanya ngantuk?”
“Udah terbang bersama asap.” Katanya, tubuhnya doyong ke arahku, melingkarkan lengan ke bahuku, dadanya menempel di pangkal tangan kiriku. Hangat.
“Bolehlah.” Kataku, setelah berpikir kalau besok aku tidak harus pagi-pagi ke kantor. Jadi setelah mengantar materi yang kudapat kepada rekanku yang akan membuat beritanya, aku dan Anita menuju arah utara. Ancol! Mana lagi pantai di Jakarta ini.
Aku parkirkan mobil Kijangku di pinggir pantai Ancol. Di sana kami terdiam, mendengarkan ombak, begitu istilah Anita tadi. Sampai setengah jam kami hanya berdiam. Namun kami duduk telah semakin rapat, sehingga dapat kurasakan lembutnya tubuh yang ada di sampingku.
Tiba-tiba Anita mencium pipiku.
“Terima kasih, Mas Didik.”
“Untuk apa?”
“Karena telah mau menemani Anita.”
Aku hanya diam. Menatapnya. Dia pun menatapku. Perlahan menunduk. Kunikmati kecantikan wajahnya. Tanpa sadar aku raih wajahnya, dengan sangat perlahan-lahan kudekatkan wajahku ke wajahnya, aku cium bibirnya, lalu aku tarik lagi wajahku agak menjauh. Aku rasakan hatiku tergetar, bibirku pun kurasakan bergetar, begitu juga dengan bibirnya.
Aku tersenyum, dan ia pun tersenyum. Kami berciuman kembali. Saat hendak merebahkannya, setir mobil menghalang gerakan kami. Kami berdua pindah ke bangku tengah Kijangku. Aku cium kening Anita terlebih dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, lalu bibirnya.
Anita terpejam dan kudengar nafasnya mulai agak terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat membara. Tanganku memegang dadanya, meremasnya dari balik kaos tipis dan bhnya.
Sesaat kemudian kaos itu telah kubuka. Aku arahkan mulutku ke lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke buah dadanya yang indah, besar, montok, kencang, dengan puting yang memerah. Tanganku membuka kaitan BH hitamnya. Aku mainkan lidahku di puting kedua buah dadanya yang mulai mengeras. Yang kiri lalu yang kanan.
“Mas Didik, kamu tau saja kelemahan saya, saya paling nggak tahan kalo dijilat susu saya…, aahh…”.
Aku pun sudah semakin asyik mencumbu dan menjilati puting buah dadanya, lalu ke perutnya, pusarnya, sambil tanganku membuka mini skirtnya.
Terpampanglah jelas tubuh telanjang gadis itu. Celana dalamnya yang berwarna hitam, menerawangkan bulu-bulu halus yang ada di situ. Kuciumi daerah hitam itu.
Aku berhenti, lalu aku bertanya kepada Anita
“Anita kamu udah pernah dijilatin itunya?”
“Belum…, kenapa?”.
“Mau nyoba nggak?”.
Anita mengangguk perlahan.
Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama lagi langsung aku buka celana dalamnya, dan mengarahkan mulutku ke kemaluan Anita yang bulunya lebat, kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas. Aku keluarkan ujung lidahku yang lancip lalu kujilat dengan lembut klitorisnyana.
Beberapa detik kemudian kudengar desahan panjang dari Anita
“sstt… Aahh!!!”
Aku terus beroperasi di situ
“aahh…, Mas Didik…, gila nikmat bener…, Gila…, saya baru ngerasain nih nikmat yang kayak gini…, aahh…, saya nggak tahan nih…, udah deh…”
Lalu dengan tiba-tiba ia menarik kepalaku dan dengan tersenyum ia memandangku. Tanpa kuduga ia mendorongku untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya tangannya membuka sabuk yang kupakai, lalu membuka zipper jins hitamku.
Tangannya menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi. Lalu ia memasukkan batang kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam mulutnya.
“aahh…” Lenguhku
Kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. Namun karena dia mungkin belum biasa, giginya beberapa kali menyakiti penisku.
“Aduh Anita, jangan kena gigi dong…, Sakit. Nanti lecet…”
Kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala kemaluanku yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri, ke kanan, lalu dengan perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha memasukkan kemaluanku semaksimal mungkin ke dalam mulutnya. Namun hanya seperempat dari panjang kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam mulutnya.
“Ohk!.., aduh Mas Didik, cuma bisa masuk seperempat…”
“Ya udah Anita, udah deh jangan dipaksaain, nanti kamu tersedak.”
Kutarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di seat Kijangku. Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah. Lalu kupegang batang kemaluanku, aku arahkan ke lubang kemaluannya.
Aku rasakan kepala kemaluanku mulai masuk perlahan, kutekan lagi agak perlahan, kurasakan sulitnya kemaluanku menembus lubang kemaluannya.
Kudorong lagi perlahan, kuperhatikan wajah Anita dengan matanya yang tertutup rapat, ia menggigit bibirnya sendiri, kemudian berdesah.
“sstt…, aahh…, Mas Didik, pelan-pelan ya masukkinnya, udah kerasa agak perih nih…”
Dan dengan perlahan tapi pasti kudesak terus batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Anita, aku berupaya untuk dengan sangat hati-hati sekali memasukkan batang kemaluanku ke lubang vaginanyana. Aku sudah tidak sabar, pada suatu saat aku kelepasan, aku dorong batang kemaluanku agak keras.
Terdengar suara aneh. Aku lihat ke arah batang kemaluanku dan kemaluan Anita, tampak olehku batang kemaluanku baru setengah terbenam kedalam kemaluannya. Anita tersentak kaget.
“Aduh Mas Didik, suara apaan tuh?”
“Nggak apa-apa, sakit nggak?”
“Sedikit…”
“Tahan ya.., sebentar lagi masuk kok…”
Dan kurasakan lubang kemaluan Anita sudah mulai basah dan agak hangat. Ini menandakan bahwa lend*r dalam kemaluan Anita sudah mulai keluar, dan siap untuk penetrasi. Akhirnya aku desakkan batang kemaluanku dengan cepat dan tiba-tiba agar Anita tidak sempat merasakan sakit, dan ternyata usahaku berhasil, kulihat wajah Anita seperti orang yang sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, matanya setengah terpejam, dan sebentar-sebentar kulihat mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara.
“sshh…, sshh…”
Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi bibirnya yang sensual. Aku pun merasakan nikmat yang luar biasa. Kutekan lagi batang kemaluanku, kurasakan di ujung kemaluanku ada yang mengganjal, kuperhatikan batang kemaluanku, ternyata sudah masuk tiga perempat kedalam lubang kemaluan Anita.
Aku coba untuk menekan lebih jauh lagi, ternyata sudah mentok…, kesimpulannya, batang kemaluanku hanya dapat masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam lubang kemaluan Anita. Dan Anita pun merasakannya.
“Aduh Mas Didik, udah mentok, jangan dipaksain teken lagi, perut saya udah kerasa agak negg nih, tapi nikmat., aduh…, barangmu gede banget sih Mas Didik…”
Aku mulai memundur-majukan pantatku, sebentar kuputar goyanganku ke kiri, lalu ke kanan, memutar, lalu kembali ke depan ke belakang, ke atas lalu ke bawah. Kurasakan betapa nikmat rasanya kemaluan Anita, ternyata lubang kemaluan Anita masih sempit, walaupun bukan lagi seorang perawan.
Ini mungkin karena ukuran batang kemaluanku yang menurut Anita besar, panjang dan kekar. Lama kelamaan goyanganku sudah mulai teratur, perlahan tapi pasti, dan Anita pun sudah dapat mengimbangi goyanganku, kami bergoyang seirama, berlawanan arah, bila kugoyang ke kiri, Anita goyang ke kanan, bila kutekan pantatku Anita pun menekan pantatnya.
Semua aku lakukan dengan sedikit hati-hati, karena aku sadar betapa besar batang kemaluanku untuk Anita, aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku ini berjalan dengan mulus. Sesekali kurasakan jari jemari Anita merenggut rambutku, sesekali kurasakan tangannya mendekapku dengan erat.
Tubuh kami berkeringat dengan sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas, namun kami tidak peduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara pada saat itu. Aku terus menggoyang pantatku ke depan ke belakang, keatas kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat.
“Aahh Mas Didik…, agak cepet lagi sedikit goyangnya…, saya kayaknya udah mau keluar nih…”
Anita mengangkat kakinya tinggi, melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa menit kemudian semakin erat…, semakin erat…, tangannya sebelah menjambak rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil telingaku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang dari mulutnya memanggil namaku.
“Mas Didik…, aahh…, mmhhaahh…, Aahh…” Dia kelojotan. Kurasakan lubang kemaluannya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit batang kemaluanku.
“aahh…, gila…, Ini nikmat sekali…” Teriakku.
Baru kurasakan sekali ini lubang kemaluan bisa seperti ini. Tak lama kemudian aku tak tahan lagi, kugoyang pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah dan, Tubuhku mengejang.
“Mas Didik…, cabut…, keluarin di luar…”
Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik kemudian kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit tertahan
“aahh…, ahh…” Aku mengerang.
“Ngghh…, ngghh..”
Aku pegang batang kemaluanku sebelah tangan dan kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan banyak sekali keluar dari batang kemaluanku.
Chrootth…, chrootthh…, crothh…, craatthh…, sebagian menyemprot wajah Anita, sebagian lagi ke payudaranya, ke dadanya, terakhir ke perut dan pusarnya.
Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan.
“Mas Didik…, nikmat banget main sama kamu, rasanya beda sama kalo saya gituan sama Ipet. Enakan sama kamu. Kalau sama Ipet, saya tidak pernah orgasme, tapi baru sekali disetubuhi kamu, saya bisa sampai, barang kali karena barang kamu yang gede banget ya?” Katanya sambil membelai batangku yang masih tegang, namun tidak sekeras tadi.
“Saya nggak bakal lupa deh sama malam ini, saya akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis saya”
Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata “Iya Anita, saya juga, saya nggak bakal lupa”.
Kami pun setelah itu menuju kostku, kembali memadu cinta. Setelah pagi, baru aku mengantarnya pulang. Dan berjanji untuk bertemu lagi lain waktu.